ISLAM DI SPANYOL DAN PENGARUHNYA
TERHADAP
RENAISANS DI EROPA
MATA KULIAH : SEJARAH PERADAPAN
ISLAM
Dosen Pengampu : Ani Apiyani, M.Pd.I
Semester 3 Non Reguler.
Prodi Ekonomi Syari’ah
Oleh:
JUNIATI
NPM. 15130005
SEKOLAH
TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)
AGUS
SALIM METRO LAMPUNG
TAHUN 2016/2017
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap lafadz Bismillahirrohmanirrohim, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat
Allah SWT atas kekuasaan, kehendak dan ridho-Nya pada kesempatan ini kami dapat
menyelesaikan tugas membuat makalah dengan judul “ISLAM DI SPANYOL DAN PENGARUHNYA TERHADAP RENAISANS DI EROPA”.
Tentunya dalam menyelesaikan
makalah ini penulis mendapat banyak bantuan petunjuk dari berbagai pihak, maka
dalam penjelasan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih banyak
kesalahan dan kekurangan baik dari segi penampilan maupun isi. Oleh karena itu
saran dan kritik yang sifatnya ingin memperbaiki sangat kami harapkan demi
kesempurnaan tugas ini dimasa yang akan
datang.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kami pada khususnya dan
bagi para pembaca umumnya untuk menambah pengetahuan dan memperluas khasanah
keilmuan dalam memperdalam ilmu-ilmu agama. Amin.
Metro, 2 Oktober 2016
DAFTAR ISI
HALAMAN
DEPAN..............................................................................................
|
i
|
KATA
PENGANTAR.............................................................................................
|
ii
|
DAFTAR ISI ...........................................................................................................
|
iii
|
BAB I
|
PENDAHULUAN
|
1
|
|
A.
|
Latar Belakang...............................................................................
|
1
|
|
B.
|
Rumusan
Masalah..........................................................................
|
2
|
|
C
|
Tujuan Penulisan............................................................................
|
2
|
BAB II
|
PEMBAHASAN....................................................................................
|
3
|
|
A.
|
Kondisi
Spanyol pra Islam..………………………………………
|
3
|
|
B.
|
Masuknya Islam di Spanyol ……………………………………...
|
4
|
|
C.
|
Perkembangan Islam di Spanyol …………………………….......
|
6
|
|
D
|
Kemajuan peradaban……………………………………………..
|
11
|
|
E
|
Penyebab kemunduran dan kehancuran………………………….
|
17
|
|
F
|
Pengaruh peradaban Spanyol Islam di Eropa
……………………
|
18
|
BAB III
|
KESIMPULAN
|
20
|
|
DAFTAR PUSTAKA
|
|
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG .
Sekitar dua abad sebelum masehi hingga awal abad ke lima, Spanyol berada di
bawah Imperium Romawi. Sejak tahun 406 M, Spanyol dikuasai oleh bangsa Vandal,
yaitu bangsa yang berimigrasi dari negeri asal mereka yaitu suatu daerah yang
terletak di antara Sungai Order dan Vistuala. Pengusa daerah ini mendirikan
kerajaan di propinsi wilayah Chartage. Kekuasaan Vandal ini kemudian diambil
alih oleh orang-orang Gothic, maka didirikanlah kerajaan Visigoth, yang wilayah
itu dikenal dengan Vandalusia. Dan setelah kedatangan orang-orang Islam pada
tahun 92 H711 M, sebutan Vandalusia diubah menjadi Andalusia
atau Andalus.
Kehadiran orang-orang Islam di Spanyol merupakan awal
munculnya Islam di benua Eropa karena Spanyol merupakan pintu gerbang bagi
benua tersebut. Sebagaimana diinformasikan dalam buku-buku sejarah, ekspansi
Islam ke Wilayah Barat (dalam hal ini Eropa bagian Barat) terjadi pada masa
kekhilafahan Bani Umayyah dengan khalifah Al-Walid bin Ibnu Malik.
Pada saat itu Musa Bin Nushair, sebagai penglima
perang khalifah dan Thariq bin Ziyad sebagai komandan lapangan, dimana keduanya
dianggap sebagai tokoh pelaku utama atas masuknya Islam di Spanyol. Mereka
berhasil menguasai wilayah Afrika Utara dan kemudian menyeberang ke Benua
Eropa. Setelah masuknya Islam di Spanyol maka banyaklah kemajuan-kemajuan yang
diperoleh dan hal ini dapat dilihat dari banyaknya tokoh-tokoh dan para ilmuwan
yang muncul dari sana.
Namun setelah berabad-abad lamanya Islam menguasai Spanyol, Islam mulai
mengalami kemunduran dan kehancuran, bahkan kemudian Islam hilang dari bumi
tersebut. Hal ini disebabkan dari berbagai fakor.
B. RUMUSAN MASALAH.
Bagaimana kondisi Spanyol pra Islam?.
Bagaimana masuknya Islam di spanyol?.
Bagaimana perkembangan Islam di spanyol?.
Bagaimana kemajuan peradaban?.
Bagaimana penyebab kemunduran dan kehancuran?.
Bagaimana pengaruh peradaban Spanyol Islam di Eropa?.
C. TUJUAN.
1.
Untuk mangetahui kondisi spanyol pra islam.
2.
Untuk mangetahui masuknya islam di spanyol.
3.
Untuk mangetahui perkembangan islam di spanyol.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Kondisi Spanyol Pra Islam.
Jazirah ini dulu bernama Iberia
(kurang lebih 93% wilayah Spanyol, sisanya Portugal). Setelah bangsa Romawi
berkuasa di sana
pada abad yang kedua mereka menamainya dengan “Asbania” yang berarti “Pantai
Marmot”. Karena orang-orang Punisia ketika singgah di semenanjung itu nampaklah
kawanan-kawanan Marmot. Sesudah bangsa Romawi, bagian semenanjung selatan itu
juga pernah takluk kepada suku-suku bangsa Vandal pada abad kelima. Sesudah itu
bangsa Goth menyerang pula pada permulaan abad keenam. Mereka mengusir bangsa
Vandal ke Afrika Utara.
Pada masa Islam, Spanyol dikenal dengan sebutan Andalusia yang berasal dari kata “Vandalusia” berarti
negeri bangsa Vandal. Menjelang penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam,
kondisi sosial, ekonomi dan politik negeri ini berada dalam keadaan yang
memprihatinkan. Negeri di semenanjung itu didiami oleh penduduk yang berbeda-beda
kebangsaan dan agamanya. Antara orang Kristen dan Yahudi timbul permusuhan yang
meruncing dan sering kali orang Yahudi mengalami kekalahan dan menderita
bermacam-macam kesusahan. Karena penguasa Ghothic bersifat tidak toleran
terhadap penganut agama lain. Penganut agama Yahudi di Spanyol dipaksa dibabtis
menurut agama Kristen, yang tidak bersedia disiksa dan dibunuh. Sehingga
kelompok minoritas Yahudi selalu mendapat tekanan politik akibat berbeda paham
dengan agama penguasa. Hal ini menambah kompleksnya persoalan sosial di wilayah
ini.
Pada masa itu masyarakat Spanyol juga terpolarisasi
dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya, sehingga ada
masyarakat kelas satu, dua, dan tiga. Kelompok masyarakat kelas satu yakni
penguasa, yang terdiri atas raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama
dan tuan tanah besar. Kelas dua terdiri atas tuan-tuan tanah kecil. Kelompok
masayarakat kelas tiga terdiri atas budak, termasuk budak tani yang nasibnya
tergantung pada tanah tapi tidak menikmati tanah yang mereka garap, pengembala,
pandai besi, orang Yahudi, dan kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari.
Dengan adanya kasta tersebut mengakibatkan rakyat
kelas dua dan tiga sangat tertindas, mental dan perilakunya merosot. Demi
mempertahankan hidup, mereka harus mencari nafkah dengan jalan membunuh,
merampas atau membajak. Kebangkrutan moral mereka itu bersamaan dengan jatuhnya
ekonomi seperti yang diungkapkan Amir Ali “Their morality became as degraded as
their material condition was wretched”.
Selain itu, penguasa-penguasa Spanyol juga saling
merebutkan kekuasaan. Awal kehancuran kerajaan Goth adalah ketika Roderick
memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo,
sementara Witiza yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo diberhentikan begitu saja. Keadaan ini
memancing amarah dari Opas dan Asilla, kakak dan anak Witiza. Kondisi sosial,
ekonomi, keagamaan terutama keadaan politik yang kacau menjadikan Spanyol
menjadi terpuruk, hal tersebut menjadi salah satu faktor Islam mudah masuk ke
Spanyol.
B. Masuknya Islam di Spanyol.
Spanyol diduduki Masuknya Islam di Spanyol.Umat
islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), Salah seorang khalifah dari
Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana umat Islam sebelumnya telah
menguasai Afrika Utara. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai
Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti
Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di Zaman khalifah
Abdul Malik (685-705 M).
Di Zaman Al-Walid itu, Musa bin Nushair memperluas
wilayah kekuasaannya dengan menduduki Al-Jazair dan Maroko. Selain itu, ia juga
menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di
pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan
membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan
Islam yang dapat dikaitkan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif
ibn Malik, Thariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nusair. Tharif dapat disebut sebagai
perintis dan penyidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan
benua Eropa itu dengan pasukan perang 500 orang di antaranya adalah tentara
berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.
Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang
dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit dari
kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang
besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nusair pada tahun 711 M.
Mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7.000 orang dibawah pimpinan Thariq ibn
Ziyad.
Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk
Spanyol, karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya
terdiri dari sebagian suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan
sebagian lagi orang Arab yang dikirim khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian
menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad, sebuah gunung tempat
pertama kali Thariq dan pasukannya mendapat dan menyiapkan pasukannya, dikenal
dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Dengan dikuasainya daerah ini maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki
Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat bernama Bakkah, Raja Roderick dapat
dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukan kota-kota penting,
seperti Cordova, Granada,Toledo
(ibu kota
kerajaan goth saat itu).
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad
membuka jalan untuk penaklukan yang lebih luas lagi dengan suatu pasukan yang
besar. Ia berangkat menyeberangi selat dan satu persatu kota
yang dilewatinya dapat ditaklukan, setelah musa berhasil menaklukan Idenia,
Karmona, Seville
dan Merinda serta mengalahkan kerajaan Ghotik, Theodomir di Orihuela. Ia
bergabung dengan Thariq di Teledo. Kemudian keduanya berhasil menguasai seluruh
kota penting di Spanyol termasuk bagian utaranya
mulai dari Saragosa sampai Navarre.
C. Perkembangan Islam di Spanyol.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol
hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat
besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Sejarah panjang
yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu
1. Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan
para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus.
Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara
sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi.
Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik
politik terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya Spanyol
pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan untuk jangka waktu
yang lama.
Karena seringnya terjadi konflik internal dan
berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol
belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode
ini berakhir dengan datangnya Abdurahman Ad-Dakhil ke Spanyol pada Tahun 138
H755 M.
2. Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini Spanyol mengalami kemajuan berada di
bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi
tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh
khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki
Spanyol tahun 138 H755 M dan diberi gelar Ad-Dakhil.
Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan masjid Cordoba dan sekolah-sekolah di kota besar Spanyol. Hisyam dikenal berjasa
dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang
kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol.
Sedangkan Abdurrahman Al-Ausath dikenal sebagai
penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran
filsafat juga mulai masuk pada pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman
Al-Ausath. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke
Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak.
Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan
terjadi. Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas Negara terganggu dengan
munculnya gerakan Kristen Fanatik yang mencari kesyahidan (Martyrdom).
Penduduk Kristen diperbolehkan memiliki pengadilan sendiri berdasarkan hukum
Kristen. Peribadatan tidak dihalangi. Lebih dari itu, mereka diizinkan
mendirikan gereja baru, biara-biara di samping asrama rahib atau lainnya.
Mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau menjadi
karyawan pada instansi militer.
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini
datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo
tahun 852 M membentuk negara kota
yang berlangsung selama 80 tahun. Disamping itu sejumlah orang yang tak puas
membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontak yang
dipimpin oleh Hafsun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu,
perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering
terjadi.
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa
dengan gelar khalilfah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita
yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Al-Muktadir, khalifah Bani Abbas di
Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri.
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak
kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Bani Umayyah di Baghdad.
Andurrahman An-Nashir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya juga
memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan
pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyakrakat dapat menikmati kesejahteraan
dan kemakmuran. Pembangunan kota
berlangsung cepat.
Awal dari kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol
adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu
kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada Tahun 981 M, khalifah
menunjuk Ibn Abi’ Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang
yang ambisius yang berhasil menancapkan kekeuasaannya dan melebarkan wilayah
kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas
keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar Al-Manshur Billah. Ia wafat
pada tahun 1002 dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat
mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008
M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu.
Dalam beberapa tahun saja, Negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan
akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah
Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Katika itu, Spanyol sudah terpecah dalam
banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.
4. Periode Keempat (1013-1086)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari
30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau
Al-Mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova,
Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada
periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern.
Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang
bertikai itu ada yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat
kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama
kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif
penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan
intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para
sarjana dan sastrawan untuk mendapat perlindungan dari satu istana ke istana
lain.
5. Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun terpecah ke
dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu
kekuasaan Dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan Dinasti Muwahhidun (1146-11235
M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan
oleh Yusuf ibnu Tasyfin di Afrika Utara. Pada Tahun 1062 M ia berhasil
mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas
undangan penguasa-penguasa Islam di sana
yang tengah memikul berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya sendiri
dari serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol
pada tahun 1068 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia.
Pada tahun 1146M penguasa dinasti Muwahhidun yang
berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad
ibn Tumart. Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd al-Mun’im.
Antara tahun 1114 dan 1154M, kota-kota muslim penting, Cordova, Almeria, dan
Granada, jatuh ke bawah kekuasannya. Untuk jangka beberapa dekade, dinasti ini
mengalami banyak kemajuan. Kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi
tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212 M,
tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa.
Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun
menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke
Afriks Utara tahun 1235 M. Keadaan Spanyol kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa
kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari
serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke
tangan penguasa Kristendan Seville jatuh tahun
1248 M. seluruh Spanyol kecuali Granada
lepas dari kekuasaan Islam.
6. Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah Dinasti
Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman
Abdurrahman An-Nashir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa
di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di
Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan
kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena
menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak
dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan
digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan
kepada Ferdenand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini
dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta dinobatkan
sebagai khalifah.
Tentu saja, Ferdenand dan isabela yang mempersatukan
dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas.
Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah
tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya
mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan Isabella, kemudian
hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol
tahun 1492 M. umat Islam setelah dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen
atau pergi meninggal Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada umat
Islam di daerah ini.
Walaupun Islam telah berjaya dan dapat berkuasa hampir tujuh setengah abad
lamanya.
D. Kemajuan Peradaban.
Islam di Spanyol lebih dari tujuh abad dan umat Islam
telah mencapai kejayaannya di Spanyol.
Banyak kemajuan dan prestasi yang diperoleh umat Islam di Spanyol,
bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih
kompleks. Islam di Spanyol telah menunjukkan kemajuan pada bidang ilmu
pengetahuan, musik dan seni, bahasa dan sastra, dan kemajuan pada pembangunan
fisik.
1.
Kemajuan Intelektual
Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk
yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab [Utara dan Selatan], al-Muwalladun
[orang-orang Spanyol yang masuk Islam], Barbar [umat Islam yang berasal dari
Afrika Utara], al-Shaqalibah [penduduk daerah antara Konstanstinopel dan
Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk
dijadikan tentara bayaran], Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan
Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang
terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya
Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmu pengetahuan, sastra dan pembangunan
fisik di Spanyol.
Untuk itu, perlu mengkaji kemajuan yang dicapai umat Islam Spanyol,
sebagai berikut
a. Bidang Filsafat.
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya
yang sangat berilian dalam bentangan sejarah Islam. Umat Islam berperan sebagai jembatan
penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad
ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu
pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan dinasti
Bani Umayyah yang ke-5 Muhammad ibn Abd al-Rahman [832-886 M].
Atas inisiatif al-Hikam [961-976 M], karya-karya
ilmiah dan filosofis diimpor dari Tumur dalam jumlah besar, sehingga Cordova
dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat
utama ilmu pengetahuan di dunia Islam.
Pada perkembangan selanjutnya, lahirlah tokoh utama
pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn
al-Sayigh yang lebih dikenal dengan ibn Bajjah.
Seperti al-Farabi dan ibn Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya
bersifat etis dan eskatologis dengan magnum opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid.
Tokoh utama kedua adalah Abd Bakr ibn Thufail, banyak menulis masalah
kedokteran, astronomi dan filsafat, serta karya filsafatnya yang sangat
terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Pada bagian akhir abad ke-12 M, menjadi saksi
munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat
dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova.
Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menggeluti masalah-masalah menahun
tentang keserasian filsafat dan agama. Ibn Rusyd, juga ahli fiqh dengan
karyanya Bidayah al-Mujtahid.
b. Bidang Sains
Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi,
kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Farnas, termasyhur
dalam ilmu kimia dan astronomi. Abbas ibn Farnas, adalah orang pertama yang
menemukan pembuatan kaca dari batu.
Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash, terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat
menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya.
al-Naqqash, juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak
antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli
dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hisan bint Abi Ja’far dan saudara perempuannya
al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam
bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair dari Valencia
[1145-1228 M] menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan
Ibn Batuthah dari Tangier [1304-1377 M] mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibn
al-Khatib [1317-1374 M] menyusun riwayat Granada,
sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis
adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di
Spanyol, yang kemudia pindah ke Afrika.
Itulah sebagai nama-nama besar dalam bidang sains yang terkenal pada masanya di
Islam Spanyol.
c. Bidang Fikih
Dalam bindang fikir, Spanyol Islam dikenal sebagai
penganut mazhab Maliki. Orang yang membawa dan memperkenalkan mazhab ini di
Spanyol adalah Ziyad ibn Abd al-Rahman. Kemudian perkembangan selanjutnya
ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam ibn Abd
al-Rahman. Ahli-ahli fikih lainnya di antaranya adalah Abu Bakar ibn
al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.
d. Bidang Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam
mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab.
Setiap kali diselenggarakan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil
mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu
yang dimilikinya itu turunkan kepa anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan
juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
e. Bidang
Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam
pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam
dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor duakan bahasa asli mereka.
Mereka juga banyak ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan
berbicara maupun tata bahasa.
Mereka-mereka itu antara lain Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Alfiyah,
Ibn Khuruf, Ibn al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan ibn Usfur, dan Abu
Hayyan al-Gharnathi.
Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra
banyak bermunculan, seperti Al-‘Iqd al-Farid
karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirah fi Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn
Bassam, Kitab al-Qalaid karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi karya-karya
yang lain.
2. Kemegahan Pembangunan Fisik.
Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian
umat Islam sengat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar
dibangun. Bidang pertanian demikian juga sistem Irigasi baru diperkenalkan
kepada masyarakat Spanyol yang tidak mengenal sebelumnya. Dam-dam, kanal-kanal,
saluran sekunder, tersier, dan jembatan-jembatan air didirikan. Tampat-tempat
yang tinggi, dengan begitu, juga mendapat jatah air.
Orang-orang Arab memperkenalkan pengaturan hidrolik
untuk tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air, waduk
[kolam] dibuat untuk konservasi [penyimpanan air]. Pengaturan hydrolik itu
dibangun dengan memperkenalkan roda air [water wheel] asal Persia yang
dinamakan na’urah [Spanyol Noria]. Disamping itu, orang-orang Islam juga
memperkenalkan pertanian padi, perkebunan jeruk, kebun-kebun dan tanaman-tanaman. Industri,
disamping pertanian dan perdagangan, juga merupakan tulang punggung ekonomi
Spanyol Islam. Di antaranya adalah tekstil, kayu, kulit, logam, dan industri
barang-barang tembikar.
Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah
gedung-gedung, seperti pembangunan kota,
istana, mesjid, pemukiman, dan taman-taman. Di antara pembangunan yang megah
adalah mesjid Cordova, kota al-Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa, tembok
Toledo, Istana al-Makmun, mesjid Seville, dan istana al-Hamra di Granada.
a. Cordova
Cordova adalah ibukota Spanyol sebelum Islam, yang
kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah. Oleh penguasa muslim, kota ini dibangun dan
diperindah. Jembatan besar dibangun untuk menghiasi ibukota spanyol Islam itu.
Diantara kebanggaan kota
Cordova lainnya adalah mesjid Cordova. Menurut ibn al-Dala’i, terdapat 491
mesjid di sana.
Di samping itu, ciri khusus kota-kota Islam adalah adanya tempat-tempat
pemandian. Di Cordova saja terdapat 900 pemandian. Di sekitarnya berdiri
perkampungan–perkampungan yang indah. Karena air sungai tak dapat diminum,
penguasa muslim mendirikan saluran air dari pegunungan yang panjangnya 80 km.
b. Granada
Granada
adalah tempat pertahanan terakhir ummat Islam di Spanyol. Disana berkumpul
sisa-sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Cordova diambil alih oleh Granada di masa-masa akhir
kekuasaan Islam di Spanyol. Arsitektur-arsitektur bangunannya terkenal di
seluruh Eropa. Istana al-Hamra yang indah dan megah adalah pusat dan puncak
ketinggian arsitektur Spanyol Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang
tidak kalah indahnya.
Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih
bisa diperpanjang dengan kota
dan istana al-Zahra, istana al-Gazar, menara Girilda dan lain-lain.
3.
Faktor-faktor Pendukung Kemajuan
Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh
adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan
kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd al-Rahman al-Dakhil, Abd al-Rahman
al-Wasith dan Abd al-Rahman al-Nashir.
Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut
ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang mempelopori
kegiatan-kegiatan ilmiah yang terpenting diantara penguasa dinasti Umayyah di
Spanyol dalam hal ini adalah Muhammad Ibn Abd al-Rahman [852-886] dan al-Hakam
II al-Muntashir [961-976].
Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa
terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut
berpartisispasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol. Untuk orang
Kristen, sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang
menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing.
Meskipun ada persaingan yang sengit antara Abbasiyah
di Baghdad dan
Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa
peperangan. Sejak abad ke-11 M dan seterusnya, banyak sarjana mengadakan
perjalanan dari ujung barat wilayah Islam ke ujung timur, sambil membawa
buku-buku dan gagasan-gagasan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun umat Islam
terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat apa yang disebut kesatuan
budaya dunia Islam.
Granada,
dan lain-lain berusaha menyaingi Cordova. Kalau sebelumnya Cordova merupakan
satu-satunya pusat ilmu dan peradaban Islam di Spanyol, Muluk al Thawa’if
berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru yang diantaranya justru lebih
maju.
E. Penyebab Kemunduran dan Kehancuran.
Islam di Spanyol, menjadi pemerintahan yang berdiri
sendiri di masa khalifah Abdurrahman III dan merupakan salah satu negara
terbesar di masa itu, disamping daulat Abbasiyah di Timur, Bizantium dan
kerajaan Charlemangne [Frank] di Barat. Tetapi pada masa pemerintahan
berikutnya Spanyol mengalami kemunduran karena terjadi disintegrasi yang telah
memporak-porandakan kesatuan dan persatuan Andalusia
yang membawa kepada kehancuran Islam di Spanyol. Adapun faktor yang menyebabkan
kemunduran Islam di Spanyol antara lain
1. Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa muslim
tidak melakukan islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan
hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan
mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki
tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata.
2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Kalau di tempat-tempat lain para muallaf diperlakukan
sebagai orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang
dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima
orang-orang pribumi.
Setidak-tidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih
memberi istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para muallaf itu, suatu ungkapan
yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non Arab yang ada
sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar
terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut. Hal ini menunjukkan tidak
adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, disamping kurangnya figur
yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.
3. Kesulitan
Ekonomi
Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa
membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat “serius”,
sehingga lalai membina perekonomian.
Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi
kondisi politik dan militer.
4. Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan
Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli
waris. Bahkan, karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk al-Thawaif
muncul. Granada
yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ke tangan
Ferdinand dan Isabella, diantaranya juga disebabkan permasalahan ini.
5. Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam yang
lain. Pemerintahan Spanyol jauh dari daerah Islam lain mengakibatkan jauhnya
dukungan dari daerah lain kecuali dari Afrika Utara yang dibatasi oleh laut,
sementara daerah sekitarnya adalah daerah yang dikuasai kaum Nasrani yang
salalu iri dan merasa direndahkan oleh etnis Arab. Maka Islam Spanyol, selalu
berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan
demikian, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan
Kristen di sana.
F. Pengaruh Peradaban Spanyol Islam di Eropa.
Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol
berada dibawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya
Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping bangunan fisik.
Berawal dari gerakan Averroeisme inilah Eropa kemudian
lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M.
Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya
ilmuwan-ilmuwan muslim. Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka
mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas pertama di Eropa
adalah Universitas Paris
yang didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd.
Di akhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Di dalam
universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh dari
universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti,
ilmu filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah
pemikiran al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah
berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan bangkitan kembali
[renaissance] pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran
Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang
dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali kedalam bahasa Latin.
Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol
dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah membina gerakan-gerakan penting
di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani
klasik [renaissance] pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan
reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17M, dan pencerahan
[aufklaerung] pada abad ke-18 M.
BAB
III
KESIMPULAN
Dari sejumlah uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa masuknya
Islam di Spanyol berbeda dengan masuknya Islam di daerah lain. Datangnya Islam
ke Spanyol atas permintaan dari penduduk setempat dan kedatangan Islam di
Spanyol ternyata memberikan kontribusi yang tak ternilai, baik kepada dunia
Islam, terlebihlebih kepada dunia Barat, dalam hal ilmu pengetahuan dan
peradaban. Kontribusi tersebut bisa terlaksana karena sikap ilmiah-konstruksif
yang secara umum menyertai para ilmuwan dalam melakukan kajian-kajian
ilmiahnya. Sikap toleransi yang cukup proporsional dalam komposisi masyarakat
yang tingkat heterogenitasnya yang cukup luar biasa dalam membangun sebuah
nilai peradaban yang pruralistik.
Kekuasaan Islam di Spanyol yang telah mencapai puncak kejayaannya
kemudian mulai melemah kemudian mundur dan hancur secara perlahan akibat
berbagai faktor. Diantaranya faktor utama penyebab kehancuran tersebut adalah
akibat terjadinya disintegrasi yang menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan
kecil yang berusaha memerdekakan diri. Kekuasaan Islam kemudian digantikan oleh
kekuasaan Kristen dan berusaha menghapus habis seluruh pengaruh Islam dan
menghilangkan Islam dari bumi Spanyol.
DAFTAR PUSTAKA
A. Syalabi, 1983, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2, Cet.
Pertama, Pustaka Alhusna, Jakarta.
Ahmad Syalabi, 1979, Mausu’ah al-Tarikh al-Islami wa al-Hadharah
al-Islamiyah, Jilid 4, Maktabah al-Nahdhah al-Maishriyah, Kairo.
Bertenes, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta Kanisius,
1986, Cetakan kelima.
Cal Brockelmann, 1980, History of the Islamic Peoples, Rotledge
& Kegan Paul, London.
David Wassenstein, 1985, Politics and Society in Islamic Spain 1002-1086, Prenceton
University Press, New Jersey.
Harun Nasution, Islam Ditinjau
dari Berbagai Aspeknya, UI Press, Jakarta,1985.
Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam al-Sitasi wa al-Dini wa
al-Tsaqafi wa al-Ijtima’i, Kairo Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah.
Jurji Zaidan, [tt], Tarikh
al-Tamaddun al-Islami, Juz III, Dar al-Hilal, Kairo.
Luthfi Abd al-Badi, al-Islam fi Isbaniya, Maktabah al-Nahdhah
al-Mishriyah, Kairo. 1969.
Majid Fakhri, 1986, Sejarah
Filsafat Islam, Pustaka Jaya, Jakarta.
W.
Montgomery Watt, 1990, Kejayaan Islam Kajian Kritis dari Tokoh
Orientalis,
Tiawa Wacana, Yogyakarta.
Zainal Abidin Ahmad, 1975, Riwayat Hidup Ibn Rusyd, Bulan Bintang,
Jakarta;1975.
A. Syalabi, 1983, Sejarah dan Kebudayaan Islam,
Jilid 2, Cet. Pertama, Pustaka Alhusna,
Jakarta, h.154.
Cal Brockelmann, 1980, History of the Islamic
Peoples, Rotledge & Kegan Paul, London,
h. 83.
A. Syalabi, 1983, h. 161.
Carl Brockelman, 1980, h.14.
David Wassenstein, 1985, Politics and Society in
Islamic Spain 1002-1086, Prenceton University Press, New Jersey, h. 15-16.
Badri Yatim, 1999, op.cit, h. 94.
Ahmad Syalabi, 1979, Mausu’ah al-Tarikh al-Islami
wa al-Hadharah al-Islamiyah, Jilid 4, Maktabah al-Nahdhah al-Maishriyah,
Kairo, h. 41-50.
Jurji Zaidan, [tt], Tarikh al-Tamaddun al-Islami,
Juz III, Dar al-Hilal, Kairo, hlm. 200.
Thomas
W. Arnold, op.cit., h. 126.
Bertold
Spuler, op.cit., h. 106.
W. Montgomery Watt, 1990, Kejayaan Islam Kajian
Kritis dari Tokoh Orientalis, Tiawa Wacana, Yogyakarta,
hlm. 217-218, dan baca Badri Yatim, 1999, h. 96-97.
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai
Aspeknya, UI Press, Jakarta,1985.
h. 82.
Luthfi Abd al-Badi, al-Islam fi Isbaniya,
Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, Kairo. 1969, h. 38.
Majid
Fakhri, 1986, Sejarah Filsafat
Islam, Pustaka Jaya, Jakarta, h. 357.
Bertold Spuler, op.cit., h. 112.
Ahmad
Syalabi, op.cit., h. 88
Bertold Spuler, op, cit., h. 103
S. M. Imamuddin, op, Cit., h. 79
Baca Badri Yatim, 1999, h.103-105.
Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam al-Sitasi wa
al-Dini wa al-Tsaqafi wa al-Ijtima’i, [Kairo Maktabah al-Nahdhah
al-Mishriyah, Tanpa Tahun], h. 428.
Majid Fakhri. Op. Cit., h. 356
Luthfi Abd al-Badi’, op., cit. h. 10
Armand Abel, op, cit., h. 246
Zainal Abidin Ahmad, 1975, Riwayat Hidup Ibn Rusyd,
Bulan Bintang, Jakarta;1975.
h. 148-149
K. Bertenes, Ringkasan Sejarah Filsafat,
[Yogyakarta Kanisius, 1986, Cetakan kelima], h. 32.
S. I. Poeradisastra, op, cit., h. 77.
Comments
Post a Comment