Ulumul Qur'an
I’JAZ QUR,AN
MATA KULIAH : ULUMUL QUR’AN
Pengampu: Khoirurr Rojiin, Lc,
M.Pd.I.
Semester 2 Non
Reguler.
Prodi
Ekonomi Syari’ah
Oleh:
JUNIATI
NPM. 15130005
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
(STIT)
AGUS SALIM METRO
LAMPUNG
TAHUN 1437H / 2016
M
KATA
PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas segala rahmatNYA sehingga makalah
ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak
yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan
harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena
keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Metro, Maret 2016
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Tujuan Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian I,jaz
Qur,an
2. Macam-macam
Mukjizat
3. Segi-segi kemukjizatan
Al-Qur,an
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.Tujuan Penulisan
Al-Qur’an setidaknya
mempunyai fungsi utama, yakni sebagai sumber ajaran, dan kebenaran kerasulan
Muhammad Saw.[1] Kecenderungan manusia sombong dan angkuh untuk tunduk kepada manusia
lainnya, kecuali diperlihatkan kepada sesuatu yang luar biasa melebihi
kemampuan yang ia miliki.
Kajian
mengenai masalah i’jaz pada dasarnya kajian tentang karakteristik teks yang
membedakanya dari teks-teks lain dalam kebudayaan, dan yang menjadikanya lebih
unggul daripada teks-teks tersebut. Fenomena al-Quran sebagai mu’jizat, berikut segala segi dan
fungsinya, akan banyak ditelaah dalam tulisan ini. Pembahasan al-Quran sebagai
mu’jizat oleh para ulama masih menyisahkan perbedaan pendapat tentang derivasi
serta domain kemu’jizatan al-Quran ditambah lagi munculnya pendapat yang
cenderung melimitasi pada segi kemu’jizatan dengan menafikan segi yang lain.Dalam kehidupan ini, kita sering menilai sesatu
itu mustahil karena akal manusia yang terbatas dan terpaku dengan hukum-hukum
alam atau hukum sebab akibat yang telah kita ketahui. Sehingga kita sering
menolak suatu yang tidak sejalan dengan logika atau hukum yang berlaku.
Manusia dengan akal
yang dimilikinya tidak mampu merenungkan ciptaan Allah di muka bumi dan di alam
semesta. Mereka tidak mencoba untuk menyempatkan diri mentadabburi kebesaran
Tuhan yang terlukis pada alam semesta. Sehingga Allah mengutus setiap rasul
pada kaumnya. Kemudian bersamaan dengan itu Allah bekali setiap rasul dengan
mukjizat sebagai tandingan terhadap kemampuan diluar kebiasaan yang berkembang
ditengah kaumnya.
B. Tujuan Penulisan
1.
Pengertian I’jaz Qur’an.
2.
Macam-macam mu’jizat.
3.
Segi-segi kemu’jizatab al-qur’an
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian I’jaz Qur’an.
Dalam kamus besar bahasa
Indonesia,
“kata Mukjizat” diartikan sebagai kejadian yang luar biasa yang sukar dijangkau
oleh akal pikiran manusia. Pengertian ini punya muatan yang berbeda dengan
pengertian I’jaz dalam perspektif Islam.[2]
Kata mukjizat terambil dari bahasa arab a’jaza yang berarti
“melemahkan atau menjadikan tidak mampu”. Pelakunya (yang melemahkan) dinamakan
mu’jiz, dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol
sehingga mampu membungkam lawan, maka ia dinamai mukjizat.[3] Kata I’jaz dalam
bahasa Arab berarti menganggap lemah kepada orang lain. Sebagaimana Allah berfirman,Al-Maidah ayat 31
y]yèt7sù ª!$# $\/#{äî ß]ysö7t Îû ÇÚöF{$# ¼çmtÎãÏ9 y#øx. ͺuqã nouäöqy ÏmÅzr& 4 tA$s% #ÓtLn=÷uq»t ßN÷yftãr& ÷br& tbqä.r& @÷WÏB #x»yd É>#{äóø9$# yͺuré'sù nouäöqy ÓÅr& ( yxt7ô¹r'sù z`ÏB tûüÏBÏ»¨Y9$# ÇÌÊÈ
Artinya: kemudian
Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan
kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. berkata
Qabil: "Aduhai celaka Aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung
gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" karena itu
jadilah Dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.
Dipahami dari ayat ini bahwa
manusia banyak pula mengambil pelajaran dari alam dan jangan segan-segan
mengambil pelajaran dari yang lebih rendah tingkatan pengetahuannya.
I’jaz sesungguhnya
menetepkan kelemahan ketika mukjizat telah terbukti, maka yang nampak
kemudian adalah kemampuan atau “mu’jiz” (yang melemahkan). Oleh sebab itu I’jaz
al-Qur’an menampakkan kebenaran Muhammad dalam pengakuannya sebagai Rasul yang
memperlihatkan kelemahan manusia dalam menandingi mukjizatnya.[4]
Secara normative I’jaz adalah
ketidak mampuan seseorang melakukan sesuatu yang merupakan lawan dari ketidak
berdayaan.[5] Oleh karena itu apabila kemukjizatan itu telah
terbukti, maka nampaklah kemampuan mukjizat. Sedang yang di maksud dengan Ijaz
secara terminology ilmu Al-Qur’an adalah sebagaimana yang di kemukakan oleh
beberpa ahli sebagai berikut. Menurut Manna Khalil Al Qaththan:
Sedangkan pengertian mukjizat, menegaskan
batasan yang lebih luas, yakni bukan hanya berupa Al-Qur’an, tetapi juga
perkara-perkara lain yang tidak mampu di jangkau manusia secara keseluruhan.
Dengan demikian dalam konteks ini antara pengertian I’jaz dan mukjizat itu
saling melengkapi, sehingga nampak jelas keistimewaan dari ketetapan-ketetapan
Allah yang khusus diberikan kepada Rasul-rasul pilihan-Nya sebagai salah satu
bukti. Kebenaran misi kerasulan yang dibawahnya.[6]
Mukjizat didefinisikan pula sebagai sesuatu luar biasa yang dipelihatkan
Allah melalui para nabi dan rasul-Nya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan
kenabian dan kerasulannya.[7]
Unsur-unsur yang terdapat pada
mukjizat adalah sebagai berikut:
- Hal atau peristiwa yang luar biasa.
- Terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku Nabi.
- Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian.
- Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani.[8]
Miftah Faridh dan Agus
Syihabuddin menyatakan mukjizat al-Quran itu dapat dilihat dari beberapa hal
berikut :
a. Gaya bahasa al-Quran yang mengagumkan,
yang tidak bisa ditandingi oleh Kandungan.
b. Al-qur’an mengenai
sejarah dan ramalan hidup manusia yang menakjubkan.
c. Al-quran sebagi sumber
ilmu pengetahuan.
d. Al-Quran sebagai
pedoman seluruh kehidupan manusia.
e. Al-Quran bebas
dari kesalahan-kesalahan.
f. Penerima wahyu
al-Quran adalah nabi Muhammad Saw. sebagai seorang rasul yang ummi.
g. Isi al-Quran
terpelihara dari pemalsuan.
Jika mengacu pada
pengertian diatas, maka ada empat unsure mukjizat yaitu: pertama,
terjadi pada seseorang yang mengaku nabi. Kedua, mengandung tantangan
bagi mereka yang meragukan kenabian. Ketiga, tantangan tersebut tidak
dapat dilayani dan keempat hal atau peristiwa yang luar biasa.
Al-Quran digunakan oleh nabi Muhammad SAW. untuk menantang orang-orang
pada masanya dan generasi sesudahnya yang tidak percaya terhadap kebenaran
al-Quran sebagai firman Allah (bukan ciptaan nabi Muhammad SAW.) dan risalah
serta ajaran yang dibawanya. Kepada mereka nabi meminta mereka untuk menandingi
al-Quran dalam tiga tahapan:
- Mendatangkan hal yang serupa dengan al-Quran secara keseluruhan.
- Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang ada dalam al-Quran.
- Mendatangkan satu surat saja yang menyamai surat-surat yang ada di dalam al-Quran.[9]
Sejarah membuktikan bahwa al-Quran ternyata gagal ditandingi oleh
orang-orang Arab sendiri. Pemimpin Quraisy pernah mengutus Abu Al-Walid,
sebagai sastrawan ulung yang jarang bandingannya, untuk membuat sesuatu yang
mirip dengan al-Quran. Ketika Abu Al-Walid berhadapan dengan Rasulullah SAW.
dan ketika itu beliau membaca surat Fushilat,
ia tercengang mendengar kehalusan dan keindahan gaya bahasa al-Quran, dan kembali kepada
kaumnya dengan tangan hampa.[10]
B. Macam-Macam Mukjizat.
Mukjizat dapat dibagi kepada dua macam, yaitu:
1. Mujizat “hissi” (material dan
indrawi) adalah yang dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium
oleh hidung, diraba oleh tangan, dirasa oleh lidah, tegasnya dapat dicapai oleh
panca indra. Mukjizat ini sengaja ditunjukan atau diperlihatkan kepada manusia
biasa, yakni mereka yang tidak biasa menggunakan kecerdasan pikirannya,
yang tidak cakap pandangan mata hatinya dan yang rendah budi dan perasannya.
Mukjizat nabi-nabi terdahulu semuanya tergolong dalam jenis mukjizat yang pertama
ini. Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi, dalam artian mukjizat
tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung oleh indrawi oleh masyarakat
ditempat seorang nabi menyampaikan risalahnya, sebagai contoh perahu nabi Nuh
yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan
gelombang yang demikian dahsyat; tidak terbakarnya nabi Ibrahim dalam kobaran
api; tongkat nabi Musa yang berubah menjadi ular; penyembuhan yang dilakukan
nabi Isa atas izin Allah dan lain-lain. Semuanya bersifat material indrawi,
terbatas pada lokasi tempat nabi tersebut berada dan berakhir dengan wafatnya
masing-masing nabi.
2. Mukjzat “ma’nawi” (rasional) ialah
mukjizat yang tidak mungkin dapat dicapai dengan kekuatan panca indra, tetapi
harus dicapai dengan kekuatan “aqli” atau dengan kecerdasan
pikiran. Karena orang tidak akan mungkin mengenal mukjizat ini, melainkan
orang yang berpikir sehat, bermata hati, berbudi luhur dan yang suka
mempergunakan kecerdasan pikirannya dengan jernih serta jujur. Sebagai contoh
mukjizat nabi Muhammad SAW, sifatnya bukan material indrawi, tetapi ‘aqliyah
(dapat dipahami oleh akal). Karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak
terbatas pada suatu tempat atau masa tertentu. Mukjizat al-Quran dapat
dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya, kapan dan dimanapun
berada.[11]
1. Gaya Bahasa.
Al-Quran mempunyai gaya bahasa yang khas yang tidak dapat ditiru
para sastrawan Arab sekalipun, karena susunan yang indah yang berlainan dengan
setiap susunan dalam bahasa Arab. Mereka melihat al-Quran memakai bahasa dan
lafazh mereka, tetapi ia bukan puisi, prosa atau syair dan mereka tidak mampu
membuat yang seperti itu (meniru al-Quran). Mereka putus asa lalu
merenungkannya, kemudian merasa kagum dan menerimanya, lalu sebagian masuk
Islam.[12] Al-Quran mencapai tingkat
tertinggi dari segi keindahan bahasanya, sehingga membuat kagum bukan saja
orang-orang mukmin, tetapi juga orang-orang kafir. Berbagai riwayat menyatakan
bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik sering secara sembunyi-sembunyi berupaya
mendengarkan ayat-ayat al-Quran yang dibaca oleh kaum muslimin. Kaum muslimin
disamping mengagumi keindahan bahasa al-Quran, juga mengagumi kandungannya
serta meyakini bahwa ayat-ayat al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan dunia dan
akhirat.[13]
Profesor
Dorman, dari Amerika menuliskan, “Al-Qur’an, kata perkatanya diwahyukan oleh
Jibril kepada Nabi Muhammad saw., tiap-tiap kata Al-Qur’an adalah lengkap dan
sempurna. Al-Qur’an adalah mukjizat yang kekal dan merupakan bukti atas
kejujuran sekaligus kebenaran klaim Rasulullah Muhammad saw. Sebagian dari sisi
kemukjizatan Al-Qur’an terkait dengan gaya
bahasa esai dan sasteranya yang betul-betul sempurna, agung dan mulia, sehingga
baik manusia maupun dewa tidak sanggup membuat tandingan bahkan untuk satu surat saja darinya.” [14]
2. Susunan Kalimat.
Keindahan Uslub atau susunan bahasa al-Quran
benar-benar membuat orang-orang Arab dan atau luar Arab kagum dan terpesona.
Kehalusan bahasa, keanehan yang menakjubkan dalam ekspresi, ciri-ciri khas balaghah
dan fashahah baik yang abstrak maupun yang konkrit, dapat
mengungkapkan rahasia keindahan dan kekudusan al-Quran. Barang siapa mampu menggali
rahasia balaghah al-Quran itu, dia akan bisa mengeluarkan khazanah
kandungannya. Di dalam al-Quran terkandung nilai-nilai istimewa dimana tidak
akan terdapat dalam ucapan manusia menyamai isi yang terkandung di dalamnya.[15] Al-Quran al-Karim dalam uslubnya
yang menakjubkan mempunyai beberapa keistimewaan, diantaranya:
a. Kelembutan
al-Quran secara lafzhiah yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan
bahasanya.
b. Keserasian al-Quran baik untuk awam maupun kaum
cendekiawan dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan
keindahan al- pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan
sekaligus. Quran.
c. Sesuai
dengan akal dan perasaan, di mana al-Quran memberikan doktrin
d. Keindahan sajian al-Quran serta susunan bahasanya,
seolah-olah merupakan suatu bingkai yang dapat memukau akal dan memusatkan
tanggapan serta perhatian.
e. Keindahan dalam liku-liku ucapan atau kalimat
serta beraneka ragam dalam bentuknya, dalam arti bahwa satu makna diungkapkan
dalam beberapa lafazh dan susunan yang bermacam-macam yang semuanya indah dan
halus.
f. Al-Quran mencakup dan memenuhi persyaratan
antara bentuk global (ijmal) dan bentuk yang terperinci (tafshil).
g. Dapat dimengerti sekaligus dengan melihat segi
yang tersurat (yang dikemukakan).[16]
Kendatipun al-Quran, hadis qudsi, dan hadis nabawi
sama-sama keluar dari mulut nabi, uslub (style) atau susunan bahasanya sangat
jauh berbeda. Uslub bahasa al-Quran jauh lebih tinggi kualitasnya bila
dibandingkan dengan dua yang lainnya. Al-Quran muncul dengan uslub yang begitu
indah. Di dalam uslub tersebut terkandung nilai-nilai istimewa dan tidak akan
pernah ada pada ucapan manusia.[17]
3. Kemukjizatan tasyrii’iy.
Al-qur’an mulai dengan mendidikan perorangan atau individu, karena ia
adalah dasar dalam membentuk masyarakat dan mendidiknya dalam memerdekakan daya
nalarnya, serta generasi penerusnya. Al-qur’an memberikan pembinaan akidah
tauhid yang bersih dari pengaruh keragu-raguan, syirik, melarang suatu hal yang
termasuk memperhambakan diri pada hawa nafsu dan syahwat, sehingga dia
benar-benar menjadi hamba Allah yang bersih. Qur’an menganjurkan semua sifat
keutamaan ideal yag melatih jiwa dengan pengontrol agama, seperti sabar, jujur,
adil, berbuat baik, santun, maaf dan tawadu’.[18]
4. Hukum Ilahi yang Sempurna.
Al-Quran menjelaskan pokok-pokok akidah, norma-norma
keutamaan, sopan santun, undang-undang ekonomi politik, sosial dan
kemasyarakatan, serta hukum-hukum ibadah. Kalau pokok-pokok ibadah wajib
diperhatikan, akan diperoleh kenyataan bahwa Islam telah memperluasnya dan
menganekaragamkannya serta meramunya menjadi ibadah amaliyah, seperti zakat dan
sedekah. Ada
juga yang berupa ibadah amaliyah sekaligus ibadah badaniyah seperti berjuang
dijalan Allah.[19]
Al-Quran menggunakan dua cara tatkala menetapkan sebuah ketentuan hukum, yakni:
a. Secara global.
Persoalan ibadah umumnya diterangkan secara global, sedangkan
perinciannya diserahkan kepada para ulama melalui ijtihad.
b. Secara terperinci.
Hukum yang dijelaskan secara terperinci adalah yang berkaitan dengan
utang-piutang, makanan yang halal dan yang haram, memelihara kehormatan wanita,
dan masalah perkawinan.[20]
5. Ketelitian Redaksinya.
a. Keseimbangan antara jumlah bilangan
kata dengan antonimnya. Beberapa contoh, di antaranya:
1) “Al-hayah”(hidup) dan “al-maut” (mati), masing-masing sebanyak
145kali;
2) “An-naf” (manfaat) dan “al-madharah”
(mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali;
3) “Al-har” (panas) dan “al-bard” (dingin),
masing-masing 4 kali.
b. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan
sinonimnya/makna yang dikandungnya.
1) “Al-harts” dan “az-zira’ah”
(membajak/bertani), masing-masing 14kali;
2) “Al-‘aql” dan “an-nur” (akal dan cahaya),
masing-masing 49 kali;
3) “Al-jahr” dan “al-‘alaniyah” (nyata), masing-masing
16 kali.
c. Keseimbangan antara jumlah bilangan
kata dengan jumlah kata yang menunjukkan kepada akibatnya.
1) “Al-infaq” (infaq) dengan
“ar-ridha” (kerelaan), masing-masing 73 kali;
2) “Al-bukhl” (kekikiran) dengan “al-hasarah”
(penyelesaian), masing-masing 12 kali;
3) “Al-fahisyah” (kekejian) dengan
“al-ghadhb” (murka), masing-masing 26 kali.
d. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata
dengan kata penyebabnya.
1) “Al-israf” (pemborosan) dengan
“as-sur’ah” (ketergesaan), masing-masing 23 kali;
2) “Al-maq’izhah” (nasihat)
dengan “al-ihsan” (lidah), masing-masing 25 kali.
3) “Al-asra” (tawanan) dengan
“al-harb” (perang), masing-masing 6 kali.
e. Disamping
keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.
1. Kata “Yawm” (hari) dalam bentuk tunggal
sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam 1 setahun, sedangkan kata hari yang
menunjuk pada bentuk plural (“ayyam”) atau dua (“yawmayni”), jumlah
keseluruhannya hanya 30, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain,
kata yag berarti “bulan” (“syahr”) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah
bulan dalam setahun.
2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit
ada “tujuh”. Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 29, surat
Al-Isra’ [17] ayat 44, surat Al-Mu’minun [23]
ayat 86, surat Fushilat [41] ayat 12, surat Al-Thalaq [65] ayat 12, surat
Al-Mulk [67] ayat 3, dan surat
Nuh [71] ayat 15.
3) Kata-kata yang menunjuk kepada
utusan Tuhan, baik rasul atau nabi atau “basyir” (pembawa berita gembira) atau
“nadzir” (pemberi peringatan), kesemuanya berjumlah 518 kali. Jumlah ini
seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul, dan pembawa berita,
yakni 518 kali.
6. Kemukjizatan dari sisi ilmu pengetahuan.
Rahasia-rahasia ilmiah yang
terkandung dalam Al-Qur’an adalah samudera tak bertepi berupa ilmu-ilmu tentang
alam, manusia, sejarah, bintang dan lain sebagainya yang semua itu mendorong
para ilmuan timur dan barat untuk melakukan penelitian yang luas dan membuat
mereka betul-betul heran.Berikut ini kami hanya akan menyebutkan beberapa
contoh ayat dan tema-tema ilmiah yang disinggung olehnya:
a.
Komposisi
tumbuh-tumbuhan yang khas(QS. Al-Hijr/ 15: 19)
b.
Pembuahan
atau penghamilan tumbuh-tumbuhan (QS. Al-Hijr/ 15: 22);
c.
Hukum pasang-pasangan dan perluasannya
sampai ke dunia tumbuh tumbuhan (QS. Al-Ra’du/ 13: 3);
d.
Gerakan di tempat dan berpindah bumi (QS.
Taha/ 20: 53);
e.
Adanya benua-benua lain selain
benua-benua yang dikenal saat itu (QS. Al-Rahman/ 55: 17);
f.
Dasar bumi itu bundar (QS. Al-Ma’arij/
70: 40);
g.
Hubungan antara fenomena-fenomena cuaca
(QS. Al-Baqarah/ 2: 164; Al-Jatsiyah/ 45: 5).
3. Kemukjizatan dalam
meramalkan hal yang akan terjadi.
Al-Qur’an telah memberitahukan kejadian-kejadian yang
akan datang. Berita-berita ini ada yang berhubungan dengan Al-Qur’an itu
sendiri dan ada pula yang berhubungan dengan kejadian-kejadian di luar.
Sebagiannya tentang kejadian-kejadian pada periode tertentu dalam sejarah,
adapun sebagiannya lagi bersifat sinambung.
Sebagiannya telah terjadi dan secara historis telah
membuktikan kebenaran Al-Qur’an, adapun sebagiannya yang lain masih berhubungan
dengan masa depan umat manusia, seperti kepemimpinan orang-orang yang saleh,
berdirinya pemerintahan global yang adil dan bertauhid, serta pembentukan madinah
islami yang ideal. Dorman menuliskan, “Bagian yang berikutnya dari kemukjizatan
Al-Qur’an berhubungan dengan ramalan-ramalan yang terkandung di dalamnya,
sungguh menakjubkan bahwa ramalan-ramalan itu mempunyai data-data akurat yang
tidak mungkin dapat dikumpulkan oleh lelaki tak terpelajar seperti Muhammad
saw.”[21]
BAB
III
KESIMPULAN
Dari makalah dapat di
ambil kesimpulan bahwa al-Quran
ini adalah Mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Kita tahu bahwa setiap nabi
di utus Allah selalu dibekali mukjizat untuk meyakinkan manusia yang ragu dan
tidak percaya terhadap pesan atau misi yang dibawa oleh Nabi.
Mukjizat ini selalu dikaitkan dengan perkembangan dan keahlian masyarakat
yang dihadapi tiap-tiap nabi, setiap mukjizat bersifat menantang baik secara
tegas maupun tidak, oleh karena itu tantangan tersebut harus dimengerti oleh
orang-orang yang ditantangnya itulah sebabnya jenis mukjizat yang
diberikan kepada para nabi selalu disesuaikan dengan keahlian masyarakat yang dihadapinya
dengan tujuan sebagai pukulan yang mematikan bagi masyarakat yang ditantang
tersebut.
.
DAPTAR
PUSTAKA
Ahmad Van Daffer, Ulum Al-Quran:
An Introduction in to The Silences of the Quran diterjemahkan oleh Ahmad
Nasir Budiman dengan judul Ilmu Al-Quran: Pengantar Dasar (Cet. I; Jakarta: Rajawali, 1998)
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/02/mukjizat-al-quran.html/
(Online hari Sabtu, 26-03-2016 pukul 13:55 WIB).
Islom Az Didgohe Donesymandone
Gharb, Nasrullah Nikbin, h. 48; dinukil dari Islom
Wa Gharb
M. Quraish Syihab, Mukjizat
Al-Quran dan Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan yang Ghaib
(Cet. IV; Bandung: Mizan 1998)
Manna’ khalil
Al- qattan, study ilmu-ilmu Al-qur’an. Bogor: Pustaka litera antar nusa. 2011
Muzakkir AS. Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran (Bogor:
Pustaka Lentera Antar Nusa, 1996), Cet. III
Rosihon Anwar . Ulumul Qur’an,
(Bandung: CV
Pustaka Setia, 2000)
Said Agil Husain Al-Munawwar, I’jaz Al-Qur’an dan Metodologi Tafsir,
(Semarang: Dina Utama, 1994)
Said Agil
Husin Al Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta: Ciputat Press,
2004
Usman, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Teras, 2009)
:
[1]. S. Agil Husain al Munawar, I’jaz al-Qur’an dan
Metodologi tafsir (Semarang: Dina Utama, 1994), h. 1
[2]. M. Quraish Syihab, Mukjizat Al-Quran dan Aspek
Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan yang Ghaib (Cet. IV;
Bandung: Mizan 1998), h. 23.
[3]. Ibid,
h.23
[4]. Muzakkir AS. Studi Ilmu-Ilmu
Al-Quran (Bogor: Pustaka Lentera Antar Nusa, 1996), Cet. III; h. 371.
[5]. Ibid, h. 205
[6]. Usman, Ulumul Qur’an,
(Yogyakarta: Teras, 2009), h. 287
[7]. Said Agil Husain Al-Munawwar, I’jaz Al-Qur’an dan
Metodologi Tafsir, (Semarang: Dimas, 1994), h. 1.
[8]. Rosihon Anwar . Ulumul Qur’an, (Bandung: CV Pustaka
Setia, 2000), h. 190.
[9]. ibid,
h. 186.
[10]. ibid,
h. 187.
[11]. http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/02/mukjizat-al-quran.html/
(Online hari Sabtu, 26-03-2016 pukul 13:55 WIB).
[12]. Said Agil Husin Al Munawar, Al-Qur’an Membangun
Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta:
Ciputat Press, 2004, h. 33.
[13]. Rosihan Anwar,
Ulumul Qur’an.Op.cit., h. 193.
[14] Islom Az Didgohe Donesymandone Gharb, Nasrullah Nikbin,
h. 48; dinukil dari Islom
Wa Gharb, h. 106.
[16]. Ibid., h. 35.
[17]. Rosihan Anwar, Ulum Al-Quran,Op.cit.,
h. 193-194.
[18]. Manna’ khalil Al- qattan, study ilmu-ilmu
Al-qur’an. Bogor:
Pustaka litera antar nusa. 2011 h., 393
[19]. Rosihan Anwar, Ulum Al-Quran. Op.cit., h.
195.
[20]. Ibid.
[21]. Ahmad Van Daffer, Ulum Al-Quran: An Introduction in
to The Silences of the Quran diterjemahkan oleh Ahmad Nasir Budiman dengan
judul Ilmu Al-Quran: Pengantar Dasar (Cet. I; Jakarta: Rajawali, 1998), h. 178.
Comments
Post a Comment