FILSAFAT MANUSIA
FILSAFAT MANUSIA
MATA KULIAH : FILSAFAT UMUM
Pengampu: H. Mahfud, M.H
Prodi Ekonomi Syari’ah
Oleh:
JUNIATI
NPM. 15130005
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)
AGUS SALIM METRO LAMPUNG
TAHUN 1437H / 2016 M
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmatNYA sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak
yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga
makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk
ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi.
Karena keterbatasan
pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam
makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Metro, Maret 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Manusia
B. Hakikat Manusia
C. Kedudukan dan Peran Manusia
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bebicara tentang manusia, Drijarkara dalam bukunya
Filsafat manusia (1969:7) Manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya
sendiri dan juga menghadapi(menghadapi kodrat). Manusia merupakan kesatuan dengan
alam, tapi juga berjarak dengannya. Manusia bisa melakukan apa saja terhadap
alam tidak seperti hewan. Lalu manusia selalu berubah dalam situasi, karena dia
selalu terlibat dalam situasi, situasi itu berubah dan merubah manusia maka ia
menyejarah. Banyak arti dari manusia, ini bukti bahwa manusia adalah makhluk
multi dimensional.[1]
Berfikir merupakan hal yang selalu dilakukan oleh
manusia, dan berpikir pula merupakan keistimewaan yang diberikan oleh Allah
SWT. kepada kita manusia. Akal yang diberikan oleh-nya merupakan suatu pembeda
antara kita dengan makhluk lainnya.
Filsafat merupakan suatu upaya berfikir yang jelas dan
terang tentang seluruh kenyataan, filsafat dapat mendorong pikiran kita untuk
meraih kebenaran yang dapar membawa manusia kepada pemahaman, dan pemahaman
membawa manusia kepada tindakan yang lebih layak.
Reinhold Niebuhr pernah mengatakan bahwa manusia itu
merupakan problema yang membingunkan. Manusia merupakan problema bagi dirinya
sendiri. Apakah manusia merupakan anak kecil di dunia ini tak ubahnya seperti
binatang dan hanya dapat memberi respons kepada naluri serta
keinginan-keinginan kebinatangaannya? Atau apakah manusia itu mempunyai tempat
yanga unik dan istimewa di dunia ini, karena ia mempunyai akal yang dapat
melakukan interprestasi atau mengungkapkan arti dalam proses kehidupan dan
sejarah? Manusia adalah sebagian dari alam dan mengambil bagian dalam cara
bertindak.[2]
Secara sederhana hakikat manusia adalah merupakan
makhluk dimensional yang mempunyai kelebihan dari pada makhluk lainnya. Manusia
mempunyai kelebihan serta kehendak yang telah ada pada dirinya, dan juga
manusia bagian dari alam yang melakukan apapun terhadap alam ia mempunyai tepat
yang unik dan istimewa berinterprestasi
di dunia ini. Manusia merupakan titipan Tuhan keatas Bumi untuk melestarikan
apa yang ada pada Bumi.
B. Tujuan Penulisan
- Pengertian manusia.
- Hakekat manusia.
- Kedududukan dan peran manusia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Manusia
Manusia secara bahasa disebut juga insan, yang dalam
bahasa arabnya berasal dari kata nasiya yang berarti lupa, dan jika dilihat
dari kata dasar nya yaitu “al-uns” yang berarti jinak. Kata insan
dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak
artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya.
Manusia dan cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan
mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataannya manusia adalah mahluk yang
berjalan diatas dua kaki, dan mempunyai kemampuan berfikir. Kemampuan berfikir
tersebut yang menentukan akan hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang
dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. Manusia dalam memiliki
karya dapat dilihat dalam setting sejarah dan setting psikologis situasi
emosional dan intelektual yang melatar belakangi karyanya. Dari karya yang
dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah.[3]
Manusia adalah pencipta dan pemecah problem; dari
dirinya problem itu muncul dan dipecahkan. Satu problem dipecahkan, problem
yang lainnya diciptakan. Dengan demikian manusia itu hidup di atas “tumpukan
problem”, makin panjang umur seorang manusia dan makin tinggi status dan
derajatnya maka akan makin banyak pula problem yang dihadapinya.[4] Immanuel
Kant memandang bahwa manusia adalah hasil dari rangkuman tiga pertanyaan,
yaitu:
1) Apa yang bisa kukenal atau
epistemologi.
2) Apa yang harus ke perbuat
yaitu etis.
3) Apa yang harus ku harapkan
atau religius.[5]
Berdasarkan
keraguan tersebut, Descartes mengeluarkan premis yaitu cogito ergo
sum (aku berfikir, maka aku
ada).[6] Metode tersebut dihasilkan oleh Descartes dengan
menjunjung tinggi suatu keraguan untuk mengungkap sebuah kebenaran. Diapun
meragukan atas keberadaan dirinya, akan tetapi satu hal yang ia tidak dapat
ragukan adalah rasa ragu itu sendiri.[7] Karena keraguan-raguan tersebutlah, maka
Descartes berpikir. Karl max memberi pengertian tentang manusia
adalah makhluk yang bekerja, dalam pekerjaan harus menjadi milik bersama.
Menurut paham eksistensialisme, manusia adalah adalah
makhluk yang menemukan dirinya didunia dan terarah kepada sesamanya. Manusia
dapat disebut makhluk paradok, karena semua manusia termasuk dalam dunia alam
sekaligus bertrandensi terhadapnya; manusia bebas dan terikat; manusia otonom dan
tergantung; manusia terbatas dan tidak terbatas; manusia individu dan person;
manusia duniawai dan ilahi; rohaniah dan jasmaniah; fana dan baka; semua
mengandung dua kebenaran yang bertentangan. Manusia juga dapat dikatakan
makhluk dinamis, membangun relasi dengan lingkungan untuk mengembangkan
dirinya. Di samping itu manusia sebagai makhluk multidimensi, artinya manusia
dalam satu kesatuan yang didalamnya terdapat berbagai dimensi yang saling
bertentangan. Aristoteles mengatakan manusia adalah animal rationalae, yang
artinya hewan yang berakal budi, kemudian pengertian itu berkembang menjadi
manusia adalah animal loquens artinya makhluk yang berbicara.[8]
Nampaknya jika memikirkan tentang manusia maka yang
tergambar dalam pikiran adalah berbagai macam persfektif tentang manusia, Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia dipandang sebagai:
1)
Manusia sebagai makhluk alamiah, yaitu
makhluk yang merupakan bagian dari alam; secara biologis hidup, tumbuh,
berkembang, dan mati secara alamiah.
2)
Manusia sebagai makhluk produktif, yaitu
makhluk yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan menyempurnakan
dirinya. Dalam kerja manusia, manusia dicipta oleh lingkungan kerjanya menjadi
tiga bagian, yaitu:
a. Manusia yang estetik yaitu
bahwa hasil kerja menjadi sesuatu yang mengagumkan.
b. Manusia etik yaitu bahwa dalam pekerjaan ia harus
mengambil keputusan dan bertanggung jawab.
c. Manusia religius yaitu bahwa
dalam pekerjaan mereka menghayati
3)
Manusia kehidupannya.sebagai homo
mensura, yaitu manusia menjadi ukuran segala yang ada sehingga ia menjadi :
a. Makhluk
epestemis yaitu makhluk yang mampu menjawab apa yang kukenal.
b. Makhluk etis yaitu makhluk yang mampu menjawab apa
yang kuperbuat.
c. Makhluk
religius yaitu makhluk yang mampu menjawab apa yang kuharapkan.
4)
Manusia sebagai makhluk partisipasi
aktif, yaitu makhluk yang mampu bekerjasama dengan orang lain.
5)
Manusia sebagai makhluk kontektualisasi
progresif, yaitu makhluk yang mampu
memecahkan masalah sesuai dengan konteknya.
6)
Manusia sebagai makhluk terpesona, yaitu
makhluk yang terpesona oleh kekuatan
alam dan ciptaanya sendiri.
7)
Manusia sebagai makhluk budak, yaitu
makhluk yang menjadi fungsi dari
hasil ciptaanya sendiri.
8)
Manusia sebagai emotional intelligence,
yaitu makhluk yang memiliki kecakapan emosi yang mampu melahirkan bahasa,
mitos, religi, dan seni.
9)
Manusia sebagai homo ludens, yaitu
makhluk yang mampu menciptakan permainan dengan alam dan sesama manusia. Dari
permainan itu dapat merusak alam dan merusak moral manusia lain.
10) Manusia sebagai homo faber, yaitu makhluk yang mampu mencipta peralatan
kerja.Manusia sebagai homo sapiens, yaitu makhluk yangmampu berfikir sehingga
mampu mencipta ilmu pengetahuan dan teknologi.
11) Manusia sebagai homo economics, yaitu makhluk yang mencintai kekayaan
dan menganggap bahwa kekayaan adalah ukuran segala-galanya.
12) Manusia sebagai homo ekology, yaitu makhluk yang mampu bersatu dengan alam, mengolahnya, dan
melestarikannya.
13) Homo simbolicum, yaitu makhluk yang mampu mencipta simbol, makna, nilai
sebagai alat komunikasi.
14) Zoon politikon, yaitu makhluk yang mampu berpolitik, merebut,
mempertahankan, dan mewariskan kekuasaan.
15) Kesatuan jiwa dan raga, yaitu makhluk yang menganggap bahwa jiwa itu
primer menurut dimensi religius dan raga itu primer menurut dimensi biologis.
16) Manusia sebagai makhluk bingung, yaitu makhluk yang mempunyai banyak
masalah yang harus dipikirkan dan dipecahkan dan tidak mengetahui mana masalah
yang pokok dan yang tidak pokok.[9]
Berbicara tentang manusia, hidup, arti, dan peranan keberadaannya adalah
selalu aktual. Sebab sampai sekarang ini manusia tetap menjadi sentral
pembahasan dalam berbagai masalah. Peristiwa besar macam apapun yang ada
didunia ini dan masalah apapun yang harus dipecahkan dibumi kita ini, pada
hakikatnya harus berhubungan dengan manusia. Untuk membangun ilmu manusia,
manusia harus ditempatkan pada kehidupan nyata dan kebudayaannya. Bangunan ilmu
manusia dapat disajikan dalam gambar berikut ini;
Dari gambar diatas, dapat dipahami bahwa dasar dari ilmu manusia adalah
kehidupan nyata. Jadi, titik tolak memahami manusia adalah bahwa bukanlah
manusia hasil dari interpretasi para pemikir, tetapi manusia dalam kehidupan
nyata, yaitu manusia kongkrit yang dapat kita saksikan dalam kehidupan
sehari-hari. [10]
Dalam kontek kehidupan nyata akan terungkap realitas manusia individual
yang tidak dapat disamaratakan dan tidak dapat dipahami dengan dalil-dalil
umum. Karena secara individual, manusia memiliki harkat dan martabat yang
berbeda satu sama lain. Perbedaan ini disebabkan karena mereka hidup dalam
ruang dan waktu yang berbeda.
Orientasi yang demikian tidak
mengacu pada manusia abstrak dan manusia yang diabtraksikan sebagai titik
tolaknya, sebab manusia yang demikian itu tidak mampu menampilkan keberadaannya
secara menyeluruh karena ia telah direduksi oleh kekuatan pikiran.[11]
Selanjutnya yang menjadi dasar ilmu manusia adalah kebudayaan. Kebudayaan
merupakan seperangkat nilai-nilai yang menjadi landasan bersikap, berpikir dan
berperilaku terhadap lingkungan dimana manusia itu lahir dan dibesarkan.
Kebudayaan merupakan identitas manusia dengan kelompoknya. Melalui kebudayaan,
sesuatu kelompok, suku, bangsa dapat dilihat kualitasnya dalam pengolahan
benda-benda duniawi menjadi benda-benda manusiawi sebagai sarana pemenuhan
kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu kebudayaan harus dinilai dan diukur secara
“otonom”, yaitu pengukuran dan penilaian menurut azas dan tujuan yang terkandung dalam kebudayaan itu sendiri.[12]
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menjumpai berbagai macam
kebudayaan, yang berujud benda, perilaku, pengetahuan, dan tata nilai. Manusia
bekerja untuk mencari nafkah; belajar untuk menuntut ilmu; menari untuk
mengungkapkan kegembiraan. Bekerja, belajar, menari adalah tingkah laku manusia
yang mempunyai nilai kultural yaitu gabungan nilai sosial, estetis, dan nilai
etis. Ketiga bentuk itu merupakan unsur hakiki dalam kebudayaan, dimana
satu dengan lainnya saling berhubungan.
Akhirnya kebudayaan dapat dipahami sebagai usaha manusia untuk menjadi manusia
atau proses kemanusiaan manusia itu sendiri.
B. Hakikat Manusia
Hakikat adalah sesuatu yang mendasar, suatu esensi, yang substansial,
yang hakiki yang penting, yang diutamakan. Dengan kata lain, hakikat adalah
sesuatu yang mesti ada pada sesuatu yang jika sesuatu itu tidak ada maka
sesuatu itu pun tidak wujud/ada. Jadi, hakikat manusia adalah sesuatu yang
pasti ada pada manusia.
Upaya pemahaman hakekat manusia sudah dilakukan sejak dahulu. Namun,
hingga saat ini belum mendapat pernyataan yang benar-benar tepat dan pas,
dikarenakan manusia itu sendiri yang memang unik, antara manusia satu dengan
manusia lain berbeda-beda. Bahkan orang kembar identik sekalipun, mereka pasti
memiliki perbedaaan. Mulai dari fisik, ideologi, pemahaman, kepentingan dan
sebagainya. Semua itu menyebabkan suatu pernyataan belum tentu pas untuk di
setujui oleh sebagian orang.
Setidaknya terdapat empat aliran pemikiran yang berkaitan tentang masalah
rohani dan jasmani (sudut pandang unsur pembentuk manusia) yaitu: Aliran serba
zat, aliran serba ruh, aliran dualisme, dan aliran eksistensialisme.
1) Aliran Serba zat (Faham Materialisme)
Aliran serba zat ini mengatakan yang sungguh-sunguh
ada itu adalah zat atau materi, alam ini adalah zat atau materi dan manusia
adalah unsur dari alam, maka dari itu manusia adalah zat atau materi. Manusia
ialah apa yang nampak sebagai wujudnya, terdiri atas zat (darah, daging,
tulang).
Jadi, aliran ini lebih berpemahaman bahwa esensi manusia adalah lebih
kepada zat atau materinya. Manusia bergerak menggunakan organ, makan dengan
tangan, berjalan dengan kaki, dan lain-lain. Semua serba zat atau meteri.
Berdasar aliran ini, maka dalam pendidikan manusia harus melalui proses
mengalami atau praktek (psikomotor).
2) Aliran Serba Ruh (Idealisme)
Dalam buku lain, aliran ini diberi nama Aliran Idealisme.
Aliran ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada di dunia ini
adalah ruh, juga hakekat manusia adalah ruh. Ruh disini bisa diartikan juga
sebagai jiwa, mental, juga rasio/akal. Karena itu, jasmani atau tubuh (materi,
zat) merupakan alat jiwa untuk melaksanakan tujuan, keinginan dan dorongan jiwa
(rohani, spirit, ratio) manusia.
Jadi, aliran ini beranggapan bahwa yang menggerakkan
tubuh itu adalah ruh atau jiwa. Tanpa ruh atau jiwa maka jasmani, raga atau
fisik manusia akan mati, sia-sia dan tidak berdaya sama sekali. Dalam
pendidikan, maka tidak hanya aspek pengalaman saja yang diutamakan, faktor
dalam seperti potensi bawaan (intelegensi, rasio, kemauan dan perasaan)
memerlukan perhatian juga.
3) Aliran Dualisme
Aliran ini menganggap bahwa manusia itu pada
hakekatnya terdiri dari dua substansi, yaitu jasmani dan rohani. Aliran ini
melihat realita semesta sebagai sintesa kedua kategori animate dan inanimate,
makhluk hidup dan benda mati. Demikian pula manusia merupakan kesatuan rohani dan
jasmani, jiwa dan raga. Misalnya ada
persoalan: dimana letaknya mind (jiwa, rasio) dalam pribadi manusia. Mungkin
jawaban umum akan menyatakan bahwa ratio itu terletak pada otak. Akan tetapi akan timbul problem, bagaiman mungkin suatu
immaterial entity (sesuatu yang non-meterial) yang tiada membutuhkan ruang,
dapat ditempatkan pada suatu materi (tubuh jasmani) yang berada pada ruang
wadah tertentu.
Jadi, aliran ini meyakini bahwa sesungguhnya manusia
tidak dapat dipisahkan antara zat/raga dan ruh/jiwa. Karena pada hakekatnya
keduanya tidak dapat dipisahkan. Masing-masing memiliki peranan yang sama-sama
sangat vital. Jiwa tanpa ruh ia akan mati, ruh tanpa jiwa ia tidak dapat
berbuat apa-apa. Dalam pendidikan pun, harus memaksimalkan kedua unsur ini, tidak
hanya salah satu saja karena keduanya sangat penting.
4) Aliran Eksistensialisme
Aliran filsafat modern berpikir tentang hakekat
manusia merupakan eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia. Jadi
intinya hakikat manusia itu yaitu apa yang menguasai manusia secara menyeluruh.
Disini manusia dipandang dari serba zat, serba ruh atau dualisme dari kedua
aliran itu, tetapi memandangnya dari segi eksistensi manusia itu sendiri di
dunia.
Secara sederhana hakikat manusia adalah merupakan
makhluk dimensional yang mempunyai kelebihan dari pada makhluk lainnya. Manusia
mempunyai kelebihan serta kehendak yang telah ada pada dirinya, dan juga
manusia bagian dari alam yang melakukan apapun terhadap alam ia mempunyai tepat
yang unik dan istimewa berinterprestasi
di dunia ini. Manusia merupakan titipan Tuhan keatas Bumi untuk melestarikan
apa yang ada pada Bumi.
a. Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Manusia dilahirkan berpotensi sebagai makhluk
sosial(hidup bersama dengan orang lain). Menurut Immanuel Kant, manusia hanya
menjadi manusia jika berada diantara manusia.[13]
Setelah ditekankan hak-hak manusia atas dasar
martabatnya sekarang harus diperhatikan, bahwa manusia juga oleh kodratnya
adalah makhluk sosial. Semua manusia saling berhubungan dan mempersatukan dalam
keseluruhan sosial (masyarakat); dan masyarakat ditunjukan kepada semua
kepentingan anggotanya.[14] Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas
dari pengaruh orang lain. Selama manusia hidup ia tidak akan lepas dari
pengaruh masyarakat, dirumah, disekolah, dan di lingkungan yang lebih besar
manusia tidak lepas dari pengaruh orang lain. Oleh karena itu manusia dikatakan
sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang didalam hidupnya tidak bisa
melepaskan diri dari manusia lain.[15]
August Comte (1875) mepelajari pendekatan evolusionis
dalam sosiologi. Comte menaruh perhatian besar pada gejala sosial masyarakat.
Masyarakat dipandang sebagai suatu orde( susunan yang tetap dan tertib). Orde
itu muncul karena adanya kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk social saling
membutuhkan dan saling melengkapi. Tiap manusia dan kelompok manusia memiliki
tugas dan kewajiban sendiri. Masyarakat disusun berdasarkan prinsip pembagian
tugas. Jadi orde adalah keadaan normal yang bertumpu pada sifat sosial manusia.[16]
Dalam konteks social yang disebut masyarakat, setiap
orang akan mengenal orang lain oleh karena itu perilaku manusia selalu terkait
dengan orang lain. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga dikarenakan
pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain.
Manusia memiliki kebutuhan untuk mencari kawan atau teman. Manusia dikatakan
juga sebagai makhluk social, karena manusia tidak akan hidup sebagai manusia
kalau tidak hidup ditengah-tengah manusia.[17]
b. Manusia Sebagai Makhluk Budaya
Manusia sebagai makhluk budaya. Dilihat dari
pengertian, budaya adalah bentuk jamak
dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa , dan rasa. Kata budaya
sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak kata
buddhi yang berarti budi dan akal. Kemudian pengertian ini berkembang dalam
arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengubah
dan mengelolah alam.
Manusia hidup bereksistensi pada bidangnya. Karena
bidang ruang selalu dalam proses waktu, maka secara nalurilah semua eksistensi
( hidup ) berhadapan dengan masalah Masalah yang menghadang kemudian diberi
respons oleh manusia dan itulah kebudayaan.
Manusia dilahirkan dengan tingkah laku yang digerakan
oleh insting dan naluri yang walaupun tidak termasuk bagian dari kebudayaan.
Namun mempengaruhi kebudayaan, minsalnya kebutuhan akan makanan adalah
kebutuhan dasar yang tidak termasuk kebudayaan. Tetapi bagaimana
kebutuhan-kebutuhan itu dipengaruhi apa yang kita makan dan bagaimana cara kita makan adalah bagian
dari kebudayaan kita.[18]
Keseluruhan ini mencakup kegiatan-kegiatan duniawi
seperti mencuci piring atau menyetir mobil dan untuk tujuan mempelajari
kebudayaan, hal ini sama derajatnya dengan hal-hal yang lebih halus dalam
kehidupan. Karena itu, bagi seorang ilmu social tidak ada masyarakat atau
perorangan yang tidak berkebudayaan. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan,
bagaimanapun sederhana kebudayaan itu dan setiap manusia adalah makhluk
berbudaya.[19]
c. Manusia Sebagai makhluk Sejarah(History)
Memasuki pengertian yang hakiki melalui
pengertian-pengertian umum maupun spesifik untuk memahami hakikat sejarah.
Ternyata berdasarkan pelacak akar kata sejarah secara historis, ditemukan bahwa
kata dari sejarah sesungguhnya mula-mula berasal dari bahasa Arab, yaitu
“Syajaratun” yang dapat dibaca Syajarah yang berarti “pohon kayu”.
Namun pengertian semacam ini tidak bisa dipahami
secara biologis. Tanpaknya, kalau istilah sejarah dengan istilah-istilah yang
ada dalam bahasa nusantara, ditemukan beberapa kata yang pengertiannya kurang
lebih mengandung arti sejarah. Untuk kepentingan ini, defenisi yang dikemukakan
secara kuantitatif relative, karena pada dasarnya secara sistematis pengertian
etimolgis dan terminologis lebih dimasudkan sebagai pengatar untuk sampai pada
subtansi sejarah, yakni apa yang mejadi esensi dan nilai-nilai hakiki sejarah
itu. Sehubungan dengan itu, sejarah selalu berkaitan dengan masa lalu,
dilakukan oleh manusia sebagai makhluk social, dan disajikan secara ilmiah.
Pengertian lain mengenai sejarah dapat dikutip, “semua peristiwa masa yang
lampau adalah sejarah (sejarah sebagai kenyataan)”. Defenisi yang filosofis
juga dikemukakan “ sejarah adalah bentuk rohaniah dimana suatu kebudayaan
mempertanggungjawabkan masa yang lampau”.
Secara praktis sejarah telah menempuh perjalanan yang
amat panjang. Sepanjang perjalanan sejarah umat manusia, sejarah telah ada
sejak manusia mulai bereksistensi dipermukaan bumi.[20] Jadi
disini hakikat dari sejarah itu sendiri terlahir karena adanya manusia, karna
manusia yang berperan didalam sejarah itu sendiri. Manusia merupakan subjek
sekaligus objek dalam sejarah tersebut karena manusialah segalanya diatas bumi
ini.
Fungsi pendidikan adalah mengembangkan secara
seimbang. agar manusia dapat menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi yang
sedang dialami. Sesuatu yang berlebihan atau malah kurang itu tidak baik, jadi
yang terbaik itu adalah seimbang. Masalah manusia adalah terpenting dari semua
masalah. Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya.
Manusia secara individu tidak pernah menciptakan dirinya, akan tetapi bukan
berarti bahwa ia tidak dapat menentukan jalan hidup setelah kelahirannya dan
eksistensinya dalam kehidupan dunia ini untuk mencapai kedewasaan dan semua
kenyataan itu, akan memberikan andil atas jawaban mengenai pertanyaan hakekat,
kedudukan, dan perannya dalam kehidupan yang ia hadapi.[21]
C. Kedudukan dan Peran Manusia
Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan
yang sangat mulia. Manusia memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah,
an-nas, al insan, al basyar dan khalifah. Kedudukan dan peran
manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. Misalkan sebagai
khalifah dimuka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia disini harus bersentuhan
dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu
menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi.
Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba, yang memiliki
inspirasi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam
muka bumi. Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan
saling berkerjasama dalam rangka memakmurkan bumi. Manusia dengan alam sekitar
merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap
Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri
kepada Tuhan. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti
Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Maqasid asy-syari’ah
merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai-esensi dari
hukum, dimana harus menjaga agama, jiwa, keturunan, harta, akal dan, ekologi.
Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan
tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah.
Manusia secara bahasa disebut juga insan, yang dalam bahasa arabnya
berasal dari kata nasiya yang berarti lupa, dan jika dilihat dari kata dasar
nya yaitu “al-uns” yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut
manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu
menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia dan cara
keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang
lain. Seperti dalam kenyataannya manusia adalah mahluk yang berjalan diatas dua
kaki, dan mempunyai kemampuan berfikir. Kemampuan berfikir tersebut yang
menentukan akan hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan
sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. Manusia dalam memiliki karya dapat
dilihat dalam setting sejarah dan setting psikologis situasi emosional dan
intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia
tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah[22]
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Manusia adalah khalifah Tuhan di bumi, manusia merupakan makhluk yang
mempunyai inteligensi yang paling tinggi, manusia mempunyai kecenderungan dekat
dengan Tuhan, manusia dalam fitrahnya memiliki sekumpulan unsure surgawi yang
luhur, manusia merupakan makhluk pilihan, manusia bersifat bebas dan merdeka.
Manusia adalah merupakan makhluk dimensional yang mempunyai kelebihan
dari pada makhluk lainnya. Manusia mempunyai kelebihan serta kehendak yang
telah ada pada dirinya, dan juga manusia bagian dari alam yang melakukan apapun
terhadap alam ia mempunyai tepat yang unik
dan istimewa berinterprestasi di dunia ini. Manusia merupakan titipan
Tuhan di atas bumi untuk melestarikan apa yang ada pada bumi.
DAFTAR
PUSTAKA
Afid Burhanuddin, afidburhanuddin.wordpress (diakses pada 14 April 2015)
Cahaya Khaeroni,
“Epistemologi Rasionalisme Rene Descartes dan Relevansi terhadap Pendidikan
Islam”,http://cahayakhaeroni.blogspot.com (diakses pada 14 April 2016).
Darsono Prawironegoro, Filsafat Ilmu, (Kajian tentang Pengetahuan
yang Disusun Secara Sistematis dan Sistemik dalam Membangun Ilmu Pengetahuan),
(Jakarta: Nusantara Consulting, 2010)
Elly M. Setiadi, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, (Jakarta Kencana
Media Group, 2007)
Josef Boumans, Telaah Sosial Tentang Manusia, (Jakarta: Celesty
Hieronika, 2000)
M. Rasidi,
persoalan-persoalan filsafat. (Jakarta PT
Bulan Bintang, 1984)
T.O. Ihromi, Antropologi Budaya, (Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia,2006)
Usman Pelly, Asih Menanti, Teori Social Budaya, (Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan 1994)
ttp://halimsani.wordpress.com/2007/09/06/filsafat-manusiasiapakah-manusia/
diakses 14 April 2016
http://bunayhartop.blogspot.comhakikat-
pandangan manusia. diakses 14 April 2016
[1] http://faad-phatz.blogspot.com/2009/05/urgensi-pentingnya-memahami-hakikat.html
diakses 14 Maret 2016
[2] M. Rasidi,
persoalan-persoalan filsafat. (Jakarta PT
Bulan Bintang, 1984), h. 30
[3] http://halimsani.wordpress.com/2007/09/06/filsafat-manusia
siapakah-manusia/ diakes 14 April 2016
[4] Darsono
Prawironegoro, Filsafat Ilmu, (Kajian tentang Pengetahuan yang Disusun
Secara Sistematis dan Sistemik dalam Membangun Ilmu Pengetahuan), (Jakarta: Nusantara
Consulting, 2010), h. 176
[6] Cahaya Khaeroni,
“Epistemologi Rasionalisme Rene Descartes dan Relevansi terhadap Pendidikan
Islam”,http://cahayakhaeroni.blogspot.com (diakses pada 14 April 2016).
[7] Afid Burhanuddin,
Descartes; Biografi Pemikiran, afidburhanuddin.wordpress (diakses pada 14 April 2015).
[8] Ibid., h. 178-179
[9] Ibid., h. 179-181
[10] Ibid., h. 175-176
[11] Ibid., h. 181
[12] Ibid., h. 187
[13],http://faad-phatz.blogspot.com/2009/05/urgensi-memahamihakikat.html
diakes 14 April 2016
[14] Josef Boumans,
Telaah Sosial Tentang Manusia, (Jakarta: Celesty Hieronika, 2000), h. 160
[15] Elly M. Setiadi, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar,
(Jakarta Kencana Media Group, 2007) h.67
[16] Usman Pelly, Asih Menanti, Teori Social Budaya,
(Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1994), h. 54-55
[17] Setiadi, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, h. 67-68
[18]
T.O. Ihromi, Antropologi Budaya, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,2006) h.
18-19
[19] Ibid,
h.18
[20] Ibid,h 39-41
[21] http://bunayhartop.blogspot.com/2012/06/hakikat-manusia-dalam pandangan.html
diakses 14 April 2016
[22] ttp://halimsani.wordpress.com/2007/09/06/filsafat-manusiasiapakah-manusia/
diakses 14 April 2016
Comments
Post a Comment