Dasar-Dasar manajemen

                                                   KONSEP-KONSEP ORGANISASI

 
MATA KULIAH : DASAR-DASAR MANAJEMEN
Pengampu: Nurma Fitria, M.Pd.I.

                                                               Semester 2  Non Reguler.
Prodi Ekonomi Syari’ah


Oleh:

JUNIATI
NPM. 15130005




SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)
AGUS SALIM METRO LAMPUNG
TAHUN 1437H / 2016 M




KATA PENGANTAR



Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga  makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan  banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan  memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                                       Metro, Maret  2016



 
DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
           A. Latar Belakang Masalah
           B. Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
            A.  Pengertian Organisasi
B.    Pembentukan Organisasi Terhadap Kaderisasi
C.     Pendekatan Prilaku Organisasi
D.   Ruang Lingkup Organisasi

BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Pengorganisasian sebagai proses membagai kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membedakan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi.
Teori atau ilmu perilaku organisasi (organization behavior) pada hakekatnya mendasarkan kajiannya pada ilmu perilaku itu sendiri (akar ilmu psikologi), yang dikembangkan dengan pusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam organisasi.[1] Dengan demikian,kerangka dasar teori perilaku organisasi ini didukung oleh dua komponen pokok, yakni individu-individu yang berperilaku danorganisasi formal sebagai wadah dari perilaku tersebut.
Jadi, perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyangkut aspek- aspek tingkah laku manusia dalam organisasi atau suatu kelompok tertentu. Aspek pertama meliputi pengaruh organisasi terhadap manusia, sedang aspek kedua pengaruh manusia terhada porganisasi. Pengertian ini sesuai dengan rumusan Kelly dalam bukunya Organizational Behavior yangmenjelaskan bahwa perilaku organisasi di dalamnya terdapat interaksi dan hubungan antara organisasi di satu pihak dan perilaku individu di lain pihak.[2] Kesemuanya ini memiliki tujuan praktis yaitu untuk mengarahkan perilaku manusia itu kepada upaya-upaya pencapaian tujuan.

B.   Tujuan Penulisan
  1. Pengertian Organisasi.
  2. Pembentukan Organisasi Terhadap Kaderisasi
  3. Pendekatan Perilaku Organisasi
  4. Ruang Lingkup Organisasi

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Organisasi
Organisasi-Mengorganisasian–adalah proses pengelompokan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap kelompok kepada seorang menejer, yang mempunyai kekuasaan , yang perlu untuk mengawasi anggota-anggota kelompoak.[3]
Organisasi dalam pandangan beberapa pakar seolah-olah menjadi suatu tang” yang“bina berwujud banyak, namun tetap memiliki kesamaan konseptual. Atau dengan kata lain, rumusan mengenai organisasi sangat tergantung kepada konteks dan perspektif tertentu dari seseorang yang merumuskan tersebut.[4] Dari beberapa definisi atau pembatasan mengenai organisasi ini, dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)      Organisasi merupakan suatu pola kerja sama antara orang-orang yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu.
2)      Organisasi adalah sekelompok orang yang terbiasa mematuhi perintah para pemimpinnya dan yang tertarik pada kelanjutan dominasi partisipasi mereka dan keuntungan yang dihasilkan, yang membagi diantara mereka praktek-praktek dari fungsi tersebut yang siap melayani untuk praktek mereka.
3)       Organisasi dapat didefinisikan sebagai struktur hubungan kekuasaan dan kebiasaan orang-orang dalamsuatu sistem administrasi.
4)      Organisasi adalah suatu sistem dari aktivita-aktivita orang yang terkoordinasikan secara sadar, atau kekuatan-kekuatan yang terdiri dari dua orang atau lebih.
5)      Organisasi adalah lembaga sosial dengan ciri-ciri husus : secara sadar dibentuk pada suatu waktu tertentu, para pendirinya mencanangkan tujuan yang biasanya digunakan sebagai simbol legitimasi, hubungan antara anggotanya dan sumber kekuasaan formal ditentukan secara relatif jelas walaupun
seringkali pokok pembicaraan dan perencanaan diubah oleh para anggota-agotanya yang membutuhka nkoordinasi atau pengawasan.
6)      Organisasi adalah suatu kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu
tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
7)      Organisasi sebagai suatu kesatuan sosial dari kelompok manusia, yang saling berinteraksi menurut suatu pola tertentu sehingga setiap anggota organisasi
memilikifungsi dan tugasnya masing-masing, yang sebagai suatu kesatuan mempunyai tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga bias dipisahkan secara tegas dari lingkungannya.
8)      Organisasi merupakan suatu alat untuk pencapaian tujuan dari orang- orang yang berada diluar organisasi tersebut, sebagai suatu alat untuk pencapaian tujuan. Untuk itu organisasi harus dibuat rasional dalam arti kata harus disusun dan beroperasi berdasarkan ketentuan-ketentuan formal dan perhitungan-perhitungan efisiensi.[5]

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi sesungguhnya merupakan kumpulan manusia yang diintegrasikan dalam suatu wadah kerjasama untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan yang ditentukan. Atau menurut
Sudarsono Hardjosoekarto, pengertian yang dapat menyamakan persepsi tentang organisasi adalah bahwa organisasi merupakan jalinan kontrak (a nexus of contracts).[6]   
Dan oleh karena organisasi merupakan jalinan kontrak, maka faktor penting bagi keberadaan organisasi adalah sejauh mana organisasi tersebut mampu mengadakan kontrak dengan pihak lain. Sedangkan hal yang membedakan organisasi yang satu dengan organisasi lainnya dalam kerangka teori Mc. Kinsey, adalah structure, strategy, style (leadership), skill, staff, share value, dan system.[7] Dalam hal memilih tipe garis atau lini, sementara organisasi lain memilih tipe garis dan staf, tipe kepanitian, atau tipe fungsional.
Dalam aspek strategi, dapat ditemukan perbedaan mengenai pencapaian tujuan organisasi dalam jangka panjang dan jangka pendek. Kemudian dalam aspek gaya kepemimpinan atau style, ada pemimpin organisasi yang menonjolkan sifat-sifat karismatik,otoriter, partisipatif demokratik, dan sebagainya. Selanjutnya dalam aspek keahlian, jelas bahwa setiap organisasi akan membutuhkan keahlian yang spesifik sesuai dengan misi dan tujuan yang akan diraihnya.
Begitu juga dalam aspek staff, organisasi yang bergerak dibidang pengantaran (delivery) misalnya, akan sangat berbeda kualifikasi staff-nya dibanding dengan organisasi konsultansi. Sedangkan aspek share value artinya bahwa seluruh aspek yang telah disebutkan diatas, pada akhirnya difokuskan kepada superordinate goals, atau tujuan organisasi yang lebih tinggi. Dalam kaitan ini, jelas bahwa tujuan yang lebih tinggi dari setiap organisasi akan berbeda-beda pula.[8] Adapun aspek sistem, antar organisasi juga cenderung berbeda, baik mengenai pemanfaatan sistem informasinya, penerapan sistem perencanaan dan pengawasannya, dan sebagainya.
Dari beberapa pengertian tentang organisasi tersebut diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa cakupan organisasi tidak hanya meliputi bentuk- bentuk kelembagaan formal seperti pemerintah maupun organisasi bisnis, tetapi lebih dari itu juga meliputi setiap kontrak (perjanjian) yang terjadi antara dua orang
atau pihak atau lebih.[9]
Dengan kata lain, organisasi tidak hanya diartikan sebagai
wujud saja tetapi juga sebagai proses interaksi berbagai pihak. Kontrak atau perjanjian yang membentuk organisasi ini sendiri terdiri dari tiga macam, yaitu
  1. Spot Contract,
      Yaitu kontrak yang terjadi karena adanya transaksi dadakan (spot transaction). Kontrak jenis ini bersifat tidak fleksibel (inflexible) dalam pengertian bahwa para pihak yang mengadakan kontrak tadi tidak memiliki kebebasan untuk
saling mengajukan penawaran. Termasuk dalam jenis kontrak ini adalah belanja di supermarket, ketaatan terhadap peraturan lalu lintas, menonton sepakbola di stadion, dan sebagainya.
  2. Relational Contract,
      Yaitu kontrak yang terjadi dari adanya hubungan atau relasi antar dua orang atau lebih. Kontrak jenis ini lebih fleksibel sifatnya karena memberikan kesempatan kepadapihak-pihak yang bersangkutan untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Dengan kata lain, kontrak ini mengenal adanya clausul escape atau klausul yang berhubungan dengan diadakannya kontrak tersebut. Contohnya adalah pengangkatan seorang pekerja dengan terlebih dahulu membuat kontraknya, pegawai negeri yang tunduk pada aturan tentang hak dan kewajiban pegawai, dan sebagainya. Khususnya mengenai posisi pegawai negeri ini dilihat dari ketidak bebasan untuk menentukan pilihan– sesungguhnya bisa dikelompokkan kedalam spot contract. Namun karena sifat relasionalnya yang lebih kuat dan proses untuk menjadi pegawai juga panjang (tidak bersifat dadakan), maka ini lebih tepat dikelompokkan dalam relational contract.
  3. Implicit Contract,
      Ini merupakan jenis kontrak yang paling fleksibel, dimana tanpa adanya ikatan kontrak secara formal, seseorang dapat menjadi anggota suatu organisasi. Seorang warga Negara misalnya, tanpa melakukan sesuatu tindakan telah melekat dalam dirinya perasaan bangga sebagai anggota masyarakat serta memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap negaranya. Kelemahan dari kontrak implisit ini adalah sifatnya yang tidak lengkap (incomplete) dan susah terukur,sehingga ada baiknya jika diadakan clausuescape.[10]
Teori atau ilmu perilaku organisasi (organization behavior) pada hakekatnya mendasarkan kajiannya pada ilmu perilaku itu sendiri (akar ilmu psikologi), yang dikembangkan dengan pusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam organisasi.
Dengan demikian, kerangka dasar teori perilaku organisasi ini didukung oleh dua komponen pokok, yakni individu-individu yang berperilaku dan organisasi formal sebagai wadah dari perilaku tersebut. Jadi, perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyangkut aspek- aspek tingkah laku manusia dalam organisasi atau suatu kelompok tertentu. Aspek pertama meliputi pengaruh organisasi terhadap manusia, sedang aspek kedua pengaruh manusia terhada porganisasi.
 Organizational Behavior yang menjelaskan bahwa perilaku organisasi di dalamnya terdapat interaksi dan hubungan antara organisasi di satu pihak dan perilaku individu di lain pihak.[11] Kesemuanya ini memiliki tujuan praktis yaitu untuk mengarahkan perilaku manusia itu kepada upaya-upaya pencapaian tujuan.
Adan empat komponen yang nyata dalam pengorganisasi, dan   komponen-komponen dapat diingat dengan perkataan “W E R E”, yang berarti “Work Employes, Relationships  and Envirorment” – Pekerjaan, pegawai-pegawai, hubungan-hubungan, dan lingkungan.[12]    

B.   Pembentukan Organisasi Terhadap Kaderisasi
Hicks & Gullen (1981:321) mengatakan bahwa organisasi adalah kegiatan membagi-bagi tugas, tanggung jawab dan wewenang di antara sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Pierce I dan Robinson (1989:296) organisasi adalah proses membentuk hubungan-hubungan yang esensial di antara orang-orang, tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dengan cara mengintegrasikan dan mengkoordinasikan semua sumber organisasi kearah pencapaian suatu tujuan secara efektif dan efisien.
a.   Ciri-Ciri Organisasi
Organisasi sebagai suatu sistem, yaitu adanya seperangkat unsur yang saling bergantung dan saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Organisasi merupakan struktur, adanya suatu kadar formalitas dan pembagian tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh anggota kelompok. Adanya perencanaan yang dilakukan secara sadar berdasarkan rasionalitas dan pedoman-pedoman yang jelas. Adanya koordinasi dan kooperasi yang baik diantara orang-orang yang bekerja sama, menunjukkan bahwa tindakan-tindakan orang-orang tersebut berjalan kearah suatu tanggung jawab tertentu.
b.  Tujuan Organisasi
    Tujuan adalah arah atau sesuatu yang ingin dicapai atau dipengaruhi yang menjadi sebab dilaksanakannya suatu kegiatan. Untuk mencapai tujuan, suatu organisasi menggunakan berbagai upaya. Tujuan organisasi pada hakikatnya merupakan intergrasi dari berbagai tujuan baik yang sifatnya komplementer yaitu tujuan individu atau anggota organisasi, maupun tujuan yang sifatnya substantif, yaitu tujuan organisasi secara keseluruhan.
Tujuan substantif merupakan tujuann pokok organisasi yang menjadi sebab utama dibentuknya suatu organisasi. Oleh sebab itu, kegiatan-kegitan organisasi diarahkan kepada dua dimensi tujuan, yaitu: Tercapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Keefektifan adalah yang berhubungan dengan tujuan organisasi baik secara iksplitis maupun implisit. Efisiensi adalah berhubungan dengan rasio output dengan input atau keuntungan dengan biaya. Adakalanya tujuan dapat dicapai secara efektik, tetapi tidak efisien, artinya tujuan dapat dicapai tetapi terjadi pemborosan tenaga, bahan dan waktu. Sebaliknya, bisa terjadi tujuan tersebut dicapai secara efisien dan efektif.
Tercapainya kepuasan dari anggota organisasi. Dalam proses pencapaian tujuan organisasi, setiap orang atau anggota yang bekerja atau terlibat dalam aktivitas organisasi harus diberikan kepuasan, sehingga mereka merasa sebagai anggota organisasi, dan hal tersebut akan mendorong orang tersebut untuk bekerja dalam kondisi dan motivasi yang produktif.
Pengertian Kaderisasi adalah proses pendidikan jangka panjang untuk menanamkan nilai-nilai tertentu kepada seorang kader.[13] Sedangkan kader adalah anggota, penerus organisasi. Adapun nilainilai yang diyakini bersama sebagai pembentuk watak dan karakter organisasi. Organisasi, apapun itu mutlak mensyaratkan kaderisasi. Kecuali bila organisasi anda adalah organisasi diri sendiri, yang anggotanya anda sendiri. Organisasi terpimpin sekalipun, dimana seorang Ketua menjadi Ketua sepanjang hidupnya tetap saja membutuhkan regenerasi untuk rekan kerjanya.
Sebuah organisasi dapat kita analogikan sebagai sebuah bangunan. Sebuah bangunan tentunya harus memiliki pondasi yang kuat agar bangunan tersebut dapat tetap kokoh. Dalam sebuah organisasi salah satu pondasi yang diperlukan adalah kaderisasi. Kaderisasi dalam sebuah organisasi dapat kita artikan sebagai proses penurunan nilai kepada individu dimana nilai atau nilai-nilai tersebut adalah sesuatu yang memang dibutuhkan untuk menyiapkan individu tersebut melaksanakan tujuan organisasi yang mengkadernya.
Kaderisasi merupakan merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan.[14] Fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calo(embrio) yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.” Pandangan umum mengenai kaderisasi suatu organisasi dapat dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku kaderisasi (subyek). Dan kedua, sasaran kaderisasi (obyek). Untuk yang pertama, subyek atau pelaku kaderisasi sebuah organisasi adalah individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi dan kebijakan- kebijakannya yang melakukan fungsi regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas organisasi.
Sedangkan yang kedua adalah obyek dari kaderisasi, dengan pengertian lain adalah individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan visi dan misi organisasi. Sifat sebagai subyek dan obyek dari proses kaderisasi ini sejatinya harus memenuhi beberapa fondasi dasar dalam pembentukan dan pembinaan kader-kader organisasi yang handal, cerdas dan matang secara intelektual dan psikologis. Sebagai subyek atau pelaku, dalam pengertian yang lebih jelas adalah seorang pemimpin. Bagi Bung Hatta, kaderisasi sama artinya dengan edukasi, pendidikan. Pendidikan tidak harus selalu diartikan pendidikan formal, atau dalam istilah Hatta “sekolahsekolahan”, melainkan dalam pengertian luas.
Tugas pertama-tama seorang pemimpin adalah mendidik. Jadi, seorang pemimpin hendaklah seorang yang memiliki jiwa dan etos seorang pendidik. Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran orang yang dipimpinnya serta memberi inspirasi dan membangun keberanian hati orang yang dipimpinnya agar mampu berkarya secara maksimal dalam lingkungan tugasnya.
Sedangkan sebagai obyek dari proses kaderisasi, sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan mereka secara intensdalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh para pendahulu-pendahulunya. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal kaderisasi adalah potensi dasarsang kader. Potensi dasar tersebut sesungguhnya telah dapat dibaca melalui perjalanan hidupnya. Sejauh mana kecenderungannya terhadap problema-problema social lingkungannya. Jadi, di sana ada semacam landasan berfikir atau filosofi kaderisasi yang harus mendapatkan porsi perhatian oleh setiap organisasi atau pergerakan. Yaitu: harus ditemukan upaya mencari bibit-bibit unggul dalam kaderisasi. Subyek harus mampu menawarkan visi dan misi ke depan yang jelas dan memikat, serta menawarkan romantika dinamika organisasi yang menantang bagi para kader yang potensial, sehingga mereka dengan senang hati akan terlibat mencurahkan segenap potensinya dalam kancah organisasi.

C.  Pendekatan Perilaku Organisasi
Dengan adanya interaksi atau hubungan antar individu dalam organisasi, maka penelaahan terhadap perilaku organisasi haruslah dilakukan melalui pendekatan-pendekatan sumber daya manusia (supportif), pendekatan kontingensi, pendekatan produktivitas dan pendekatan sistem. Pendekatan sumber daya manusia dimaksudkan untuk membantu pegawai agar berprestasi lebih baik, menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, dan kemudian berusaha menciptakan suasana dimana mereka dapat menyumbang sampai pada batas kemampuan yang mereka miliki, sehingga mengarah kepada peningkatan keefektifan pelaksanaan tugas.
Pendekatan ini berarti juga bahwa orang yang lebih baik akan mencapai hasil yang lebih baik pula, sehingga pendekatan ini disebut pula dengan pendekatan suportif. Sementara itu, pendekatan kontingensi mengandung pengertian bahwa adanya lingkungan yang berbeda menghendaki praktek perilaku yang berbeda pula untuk mencapai keefektifan.[15] Disini pandangan lama yang mengatakan bahwa prinsip-prinsip manajemen bersifat universal dan perilaku dapat berlaku dalam situasi apapun, tidak dapat diterima sepenuhnya. Disisi lain, pendekatan produktivitas dimaksudkan sebagai ukuran seberapa efisien suatu organisasi dapat menghasilkan keluaran yang diinginkan. Jadi, produktivitas yang lebih baik merupakan ukuran yang bernilai tentang seberapa baik penggunaan sumber daya dalam masyarakat.
Dalam hal ini perlu diingat bahwa konsep produktivitas tidak hanya diukur dalam kaitannya dengan masukan dan keluaran ekonomis, tetapi masukan manusia dan sosial juga merupakan hal yang penting.[16] Dengan demikian, apabila perilaku organisasi yang lebih baik dapat mempertinggi kepuasan kerja, maka akan dihasilkan keluaran manusia yang baik pula, dan pada akhirnya akan menghasilkan produktivitas pada derajat yang diinginkan. Adapun pendekatan sistem terutama diterapkan dalam sistem sosial, dimana di dalamnya terdapat seperangkat hubungan manusia yang rumit yang berinteraksi dalam banyak cara. Ini berarti, dalam mengambil keputusan para manajer harus mengkaji hal-hal diluar situasi langsung untuk menentukan dampaknya terhadap sistem yang lebih besar, sehingga memerlukan analisisbiaya dan manfaat (cost – benefit analysis).[17]
Antara pendekatan sumber daya manusia dengan pendekatan produktivitas diatas, memiliki kaitan yang sangat erat, dimana adanya dorongan pimpinan terhadap karyawan untuk melakukan tugasnya sebaik mungkin, secara langsung akan mendorong tingkat produktivitas organisasi.[18] Untuk dapat mendorong karyawannya kearah tujuan yang diharapkan, seorang pimpinan harus dapat mengetahui kebutuhan karyawan yang bersifat pribadi dan internal.

D.  Ruang Lingkup Organisasi
Pengorganisasian  dilakukan untuk menghimpun, dan mengatur semua sumber-sumber yang diperlukan, termasuk manusia, sehingga pekerjaan yang dikehendaki dapat dilakukan dengan berhasil.
Perilaku Organisasi, sesungguhnya terbentuk dari perilaku-perilaku individu yang terdapat dalam organisasi tersebut. Oleh karena itu pengkajian masalah perilaku organisasi jelas akan meliputi atau menyangkut pembahasan mengenai perilaku individu. Dengan demikian dapat dilihat bahwa ruang lingkup kajian ilmu perilaku organisasi hanya terbatas pada dimensi internal dari suatu organisasi.[19]
Dalam kaitan ini, aspek-aspek yang menjadi unsur-unsur, komponen atau sub sistem dari ilmu perilaku organisasi antara lain adalah: motivasi, kepemimpinan, stres dan atau konflik, pembinaan karir, masalah sistem imbalan, hubungan komunikasi, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, produktivitas dan atau kinerja (performance), kepuasan, pembinaan dan pengembangan organisasi (organizational development), dan sebagainya.[20] Sementara itu aspek-aspek yang merupakan dimensi eksternal organisasi seperti faktor ekonomi, politik, sosial, perkembangan teknologi, kependudukan dan sebagainya, menjadi kajian dari ilmu manajemen strategik (strategic management).[21]
Jadi, meskipun faktor eksternal ini juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan organisasi dalam mewujudkan visi dan misinya. Untuk mengkondisikan  suatu organisasi dibutuhkan suatu pembagian kerja. Pembagian kerja ini dibagi-bagi secara garis mendatar dan garis tegak menurut George R. Terry dan Leslie W. Rue antara lain :
·         Pembagian kerja secara vertical didasarkan atas penetapan garis-garis kekuasaan dan menetukan tingkat-tingkat yang membentuk bangunan organisasi secara tegak. selain menetapkan kekuasaan, pembagian kerja secara vertical memudahkan arus komunikasi dalam organisasi.
·         Pembagian kerja secara horizontal didasarkan atas spesialisasi kerja. Asumsi dasar yang melandasi pembagian kerja garis datar adalah bahwa, dengan membuat setiap tugas pekerjan menjadi terperinci, makin banyak pekerjaan yang dapat dihasikan dengan usaha yang sama melalui peningkatan efesiensi dari kualitas. Secara terperinci, pembagian tugasnya  horizontal berakhir dengan keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
1.      Lebih sedikit kecapan diperlukan seseorang.
2.      Lebih mudah untuk memperinci kecakapan-kecakapan yang diperluakn untuk menyaring atau tujuan-tujuan latiahan.
3.      Mengulangi dan memprakatekkan kerja yang sama mengembangkan kemahiran.
4.      Penggunaan kecakapan-kecakapann secara efisiena terutama sekali dengan menggunakan kecakapan-kecakapan terbaik setiap pekerjan.
5.      Kemampuan untuk beroperasi bersama-sama.
6.       Lebiah banyak terdapat keseragaman dalam produksi akhir, Jka setiap potongan selalu diproduksikan oleh orang yang sama.[22]  
Mullins (2005:596) mendefinisikan bahwa the structure definines tasks and responsibilites, work roles and and relationship and channels of communication. Robbins (2009:214) berpendapat bahwa struktur organisasi menentukan bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokan, dan dikoordinasikan secara formal. Dua pengertian ini menyatakan bahwa susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjelankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahaan kegiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan wewenang siapa melapor kepada siapa.
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen ( unit-unit kerja ) dalam organisasi. Gibson et al (2009:394) berpendapat yang merupakan pola pekerjaan atau kelompok pekerjaan di dalam sebuah organisasi. Artinya, bahwa struktur organisasi merupakan pola hubungan di antara posisi-posisi  dalam orgaisasi dan antara anggota-anggotanya dalam organisasi. Nelson dam Quick (2006:494) menyatakan bahwa struktur organisasi sebagai penyambung antar depertemen dan pekerrjaan di dalam sebuah organisasi yang memberikan bentuk organisasi untuk memenuhi fungsinya. [23]
Struktur organisasi biyasanya direflesikan kedalam peta organisasi (organization chart) yang secara visual digambarkan dalam bentuk kotak dan garis.  Dengan demikian secara filosofis struktur organisasi adalah tidak lain adalah “cetak biru” atau “kerangka bangunan”  formal tentang bagian kerja dan pembagian kekuasaan serta koordinasi kerja yang memungkinkan terjadinya aliran informasi dan komunikasi yang efisien  dan proses kepuasan kerja yang cepat. Struktur organisasi menggambarkan pula pola hubungan antar pihak internal (eksekutif, manager dan pekerjaan) dan pola hubungan antara pihak internal dan eksternal.[24]
Bentuk spesifik dari kerangka kerja organisasi dinamakan struktur organisasi. Struktur organisasi banyak macamnya, mulai dari yang bersifat tradisional sampai modern. Pemahaman bagaimana organisasi tertentu tersusun, sangat berguna bagi perumusan strategi. Apabila struktur organisasi cocok dengan strategi organisasi yang diusulkan, maka strategi tersebut merupakan kekuatan organisasi. Akan tetapi, jika struktur organisasi tidak sesuai dengan strategi yang ada atau yang diusulkan, maka struktur tersebut merupakan jelas kelemahan organisasi dan akan sulit untuk mengemplementasikan strategi dengan benar.  Menurut Stoner (1986) struktur organisasi dibangun oleh lima unsur, yaitu:
  1. spesialisasi aktivitas mengacu pada spesifikasi tugas perorangan dan kelompok diseluruh organisasi atau pembagian kerja atau penyatuan tugas tersebut kedalam unit kerja (dapertementalisasi)
  2. Standart aktivitas merupakan prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayakgunaan ( predictability ) aktivitas. [25]
  3.  Koordinasi aktivitas adalah prosedur yang memadukan fungsi-fungsi dalam organisasi, seperti fungsi primer dalam suatu badan usaha, pemasaran, produksi dan penjualan merupakan fungsi garis yang secara langsung menyumbangkan pada pencapaian tujuan organisasi memerlukan koordinasi.
  4. Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputasan mengacu pada lokasi kekuasaan pengambilan keputusan . sentralisasi adalah proses konstrasi wewenang dan pengambilan keputusan pada tingkat atas organisasi. Sentralisasi dilakukan agar diproleh manfaat ekonomi dan pengendalian berbagai hal berdasarkan kebijakan, prosedur dan pemantauan yang distandardisasikan. Bawahan semata-mata sebagai pelaksana. Keuntungan sistem sentralisasi antaralain pengaturan yang sama bagi semua unit dalam organisasi. Kelemahannya, bawahan tidak berkembang dan putusan oleh atasan menyita waktu lamaterlebih jika data ada pada bawahan. Untuk mengatasi hal itu, dilakukan pendelegasian wewenang pada semua tingkat organisasi yang disebut disentralisasi.



 BAB III
KESIMPULAN:

Organisasi adalah suatu sistem tentang aktifitas kerjasama dua orang atau lebih dari sesuatu yang tidak berwujud dan tidak padang bulu, yang sebagian besar bagian silaturahmi.
Organisasi (organization) dan pengorganisasion (organizing) memiliki hubungan yang erat dengan manajemen. Organisasi merupakan alat dan wadah atau tempat manejer melakukan kegiatan-kegiatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi organik dari manajemen dan ditempatkan sebagai fungsi kedua setelah perencanaan (planning).
Berdasarkan pengertian dan teori mengenai struktur dan organisasi tersebut diatas, dapat disentesis bahwa struktur organisasi adalah pola hubungan antara pihak internal dan ekternal, suatu sistem formal dalam suatu organisasi dalam rangka penciptaan pengendalian kegiatan-kegiatan organisasi. Organisasi sebagai alat administrasi dan manajemen terlihat penting apabila diingat bahwa bergerak tidaknnya organisasi kearah pencapaian tujuan sangat tergantung atas kemampuan manusia dalam organisasi menggerakkan organisasi itu ke arah yang telah ditetapkan.





 DAFTAR PUSTAKA


Diswana, Peranan Pendidikan Kader PMII Terhadap Pemahaman Kebangsaan, Kasus
Pada Anggota PMII dikases 12 Maret 2016
George R. Terry Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara,1992).
Handoko, T. Hani. Manajemen, (Yogyakarta. Edisi Kedua. BPFE: 2000)
http://anaksebatik.blogspot.comkaderisasi-organisasi-sebuah-proses.html. Dijelaskan pula dalam A. Effendy Choiri dan Choirul Anam, Pemikiran PMII dalamBerbagai Visi dan Persepsi, Penerbit Majalah Nahdlatul Ulama Aula, Surabaya tahun 1991 dikases 12 Maret 2016
Nanang Fatah, Landasan manajemen pendidikan. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 1996)        
Wexley, Kenneth. M. And Gary A. Yuki. Perilaku Organisasi dan Psikologi
Personalia. Rineka Cipta: Jakarta 2005.
Winardi. J., Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. (Jakarta: Rajawali Pers: 2002)










[1] Handoko, T. Hani. Manajemen, Edisi Kedua. (Yogyakarta: BPFE: 2000) h  6
[2] Wexley, Kenneth. M. And Gary A. Yuki. Perilaku Organisasi dan Psikologi
Personalia
. (Jakarta: Rineka Cipta: 2005) h  4
[3] Georrge R. Terry dan Leslie W. Rue. Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara,1992) cet.ke-16.h.82
[4] Ibid .h. 35
[5] Ibid, h.  43
[6] Handoko, T. Hani. Manajemen, (Yogyakarta. Edisi Kedua. BPFE: 2000) h 56
[7] Ibid, h. 7
[8] Winardi. J., Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. (Jakarta: Rajawali Pers: 2002) h 55
[9]Ibid, h.33
[10] Winardi. J., Teori organisasi dan Pengorganisasian, (Jakarta Rajawali Pers: 2003) h 76
[11]Wexley, Kenneth. M. And Gary A. Yuki. Perilaku Organisasi dan Psikologi
Personalia
. (Jakarta Rineka Cipta: 2005) h. 76
[12] Georrge R. Terry dan Leslie W. Rue. Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara,1992).  cet.ke-16.h.82
[13]http://anaksebatik.blogspot.comkaderisasi-organisasi-sebuah-proses.html. Dijelaskan pula dalam A. Effendy Choiri dan Choirul Anam, Pemikiran PMII dalamBerbagai Visi dan Persepsi, Penerbit Majalah Nahdlatul Ulama Aula, Surabaya tahun 1991 dikases 12 Maret 2016
[14] Diswana, Peranan Pendidikan Kader PMII Terhadap Pemahaman Kebangsaan, Kasus
Pada Anggota PMII dikases 12 Maret 2016
[15] Ibid,
[16] Ibid, h.  68
[17] Ibid, h 77
[18] Ibid, h 79
[19] Ibid, h 45
[20] Ibid, h 47
[21] Ibid, h 56
[22] George R. Terry Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara,1992).h.84
[23] ibid. h.  132
[24]  Opcit. h 135
[25] Nanang Fatah, Landasan manajemen pendidikan. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 1996)         h  73-74


Comments

Popular posts from this blog

PENGANTAR ILMU HUKUM

PENGANTAR BISNIS

AKUNTANSI SYARIAH