Dasar-Dasar manajemen
KONSEP-KONSEP ORGANISASI
MATA KULIAH : DASAR-DASAR MANAJEMEN
Pengampu: Nurma Fitria, M.Pd.I.
Semester 2 Non Reguler.
Prodi Ekonomi Syari’ah
Oleh:
JUNIATI
NPM. 15130005
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
(STIT)
AGUS SALIM METRO LAMPUNG
TAHUN 1437H / 2016 M
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmatNYA sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak
yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga
makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk
ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi.
Karena keterbatasan
pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam
makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Metro, Maret 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Organisasi
B. Pembentukan Organisasi Terhadap Kaderisasi
C. Pendekatan Prilaku Organisasi
D. Ruang Lingkup Organisasi
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengorganisasian sebagai
proses membagai kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membedakan
tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan
mengalokasikan sumber daya serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas
pencapaian tujuan organisasi.
Teori atau ilmu perilaku organisasi (organization behavior) pada hakekatnya
mendasarkan kajiannya pada ilmu perilaku itu sendiri (akar ilmu psikologi),
yang dikembangkan dengan pusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam
organisasi.[1] Dengan demikian,kerangka dasar
teori perilaku organisasi ini didukung oleh dua komponen pokok, yakni individu-individu
yang berperilaku danorganisasi formal sebagai wadah dari perilaku tersebut.
Jadi, perilaku
organisasi adalah suatu studi yang menyangkut aspek- aspek tingkah laku manusia
dalam organisasi atau suatu kelompok tertentu. Aspek pertama meliputi pengaruh
organisasi terhadap manusia, sedang aspek kedua pengaruh manusia terhada porganisasi.
Pengertian ini sesuai dengan rumusan Kelly dalam bukunya Organizational
Behavior yangmenjelaskan bahwa perilaku organisasi di dalamnya terdapat
interaksi dan hubungan antara organisasi di satu pihak dan perilaku individu di
lain pihak.[2]
Kesemuanya ini memiliki tujuan praktis yaitu untuk mengarahkan perilaku manusia
itu kepada upaya-upaya pencapaian tujuan.
B. Tujuan Penulisan
- Pengertian Organisasi.
- Pembentukan Organisasi Terhadap Kaderisasi
- Pendekatan Perilaku Organisasi
- Ruang Lingkup Organisasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Organisasi
Organisasi-Mengorganisasian–adalah
proses pengelompokan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan dan
penugasan setiap kelompok kepada seorang menejer, yang mempunyai kekuasaan ,
yang perlu untuk mengawasi anggota-anggota kelompoak.[3]
Organisasi
dalam pandangan beberapa pakar seolah-olah menjadi suatu tang” yang“bina
berwujud banyak, namun tetap memiliki kesamaan konseptual. Atau dengan kata
lain, rumusan mengenai organisasi sangat tergantung kepada konteks dan
perspektif tertentu dari seseorang yang merumuskan tersebut.[4]
Dari beberapa
definisi atau pembatasan mengenai organisasi ini, dapat dikemukakan sebagai
berikut :
1)
Organisasi merupakan suatu pola kerja sama antara orang-orang yang
terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan
tertentu.
2)
Organisasi adalah sekelompok orang yang terbiasa mematuhi perintah
para pemimpinnya dan yang tertarik pada kelanjutan dominasi partisipasi mereka
dan keuntungan yang dihasilkan, yang membagi diantara mereka praktek-praktek
dari fungsi tersebut yang siap melayani untuk praktek mereka.
3)
Organisasi dapat
didefinisikan sebagai struktur hubungan kekuasaan dan kebiasaan orang-orang
dalamsuatu sistem administrasi.
4)
Organisasi adalah suatu sistem dari aktivita-aktivita orang yang
terkoordinasikan secara sadar, atau kekuatan-kekuatan yang terdiri dari dua orang atau
lebih.
5)
Organisasi adalah lembaga sosial dengan ciri-ciri husus : secara
sadar dibentuk pada suatu waktu tertentu, para pendirinya mencanangkan tujuan
yang biasanya digunakan sebagai simbol legitimasi, hubungan antara anggotanya
dan sumber kekuasaan formal ditentukan secara relatif jelas walaupun
seringkali pokok pembicaraan dan perencanaan diubah oleh para anggota-agotanya yang membutuhka nkoordinasi atau pengawasan.
seringkali pokok pembicaraan dan perencanaan diubah oleh para anggota-agotanya yang membutuhka nkoordinasi atau pengawasan.
6)
Organisasi adalah suatu kesatuan (entity) sosial yang
dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat
diidentifikasikan, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk
mencapai suatu
tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
7)
Organisasi sebagai suatu kesatuan sosial dari kelompok manusia,
yang saling berinteraksi menurut suatu pola tertentu sehingga setiap anggota
organisasi
memilikifungsi dan tugasnya masing-masing, yang sebagai suatu kesatuan mempunyai tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga bias dipisahkan secara tegas dari lingkungannya.
memilikifungsi dan tugasnya masing-masing, yang sebagai suatu kesatuan mempunyai tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga bias dipisahkan secara tegas dari lingkungannya.
8)
Organisasi merupakan suatu alat untuk pencapaian tujuan dari
orang- orang yang berada diluar organisasi tersebut, sebagai suatu alat untuk
pencapaian tujuan. Untuk itu organisasi harus dibuat rasional dalam arti kata
harus disusun dan beroperasi berdasarkan ketentuan-ketentuan formal dan
perhitungan-perhitungan efisiensi.[5]
Dari beberapa
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi sesungguhnya merupakan
kumpulan manusia yang diintegrasikan dalam suatu wadah kerjasama untuk menjamin
tercapainya tujuan-tujuan yang ditentukan. Atau menurut
Sudarsono Hardjosoekarto, pengertian yang dapat menyamakan persepsi tentang organisasi adalah bahwa organisasi merupakan jalinan kontrak (a nexus of contracts).[6]
Sudarsono Hardjosoekarto, pengertian yang dapat menyamakan persepsi tentang organisasi adalah bahwa organisasi merupakan jalinan kontrak (a nexus of contracts).[6]
Dan oleh karena
organisasi merupakan jalinan kontrak, maka faktor penting bagi keberadaan
organisasi adalah sejauh mana organisasi tersebut mampu mengadakan kontrak
dengan pihak lain. Sedangkan hal yang membedakan organisasi yang satu dengan
organisasi lainnya dalam kerangka teori Mc. Kinsey, adalah structure, strategy,
style (leadership), skill, staff, share value, dan system.[7]
Dalam hal memilih
tipe garis atau lini, sementara organisasi lain memilih tipe garis dan staf,
tipe kepanitian, atau tipe fungsional.
Dalam aspek strategi,
dapat ditemukan perbedaan mengenai pencapaian tujuan organisasi dalam jangka
panjang dan jangka pendek. Kemudian dalam aspek gaya kepemimpinan atau style, ada pemimpin
organisasi yang menonjolkan sifat-sifat karismatik,otoriter, partisipatif
demokratik, dan sebagainya. Selanjutnya dalam aspek keahlian, jelas bahwa
setiap organisasi akan membutuhkan keahlian yang spesifik sesuai dengan misi
dan tujuan yang akan diraihnya.
Begitu juga dalam
aspek staff, organisasi yang bergerak dibidang pengantaran (delivery) misalnya,
akan sangat berbeda kualifikasi staff-nya dibanding dengan organisasi
konsultansi. Sedangkan aspek share value artinya bahwa seluruh aspek yang telah
disebutkan diatas, pada akhirnya difokuskan kepada superordinate goals, atau
tujuan organisasi yang lebih tinggi. Dalam kaitan ini, jelas bahwa tujuan yang
lebih tinggi dari setiap organisasi akan berbeda-beda pula.[8]
Adapun aspek sistem,
antar organisasi juga cenderung berbeda, baik mengenai pemanfaatan sistem
informasinya, penerapan sistem perencanaan dan pengawasannya, dan sebagainya.
Dari beberapa
pengertian tentang organisasi tersebut diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa
cakupan organisasi tidak hanya meliputi bentuk- bentuk kelembagaan formal
seperti pemerintah maupun organisasi bisnis, tetapi lebih dari itu juga meliputi
setiap kontrak (perjanjian) yang terjadi antara dua orang
atau pihak atau lebih.[9] Dengan kata lain, organisasi tidak hanya diartikan sebagai
wujud saja tetapi juga sebagai proses interaksi berbagai pihak. Kontrak atau perjanjian yang membentuk organisasi ini sendiri terdiri dari tiga macam, yaitu
atau pihak atau lebih.[9] Dengan kata lain, organisasi tidak hanya diartikan sebagai
wujud saja tetapi juga sebagai proses interaksi berbagai pihak. Kontrak atau perjanjian yang membentuk organisasi ini sendiri terdiri dari tiga macam, yaitu
1. Spot Contract,
Yaitu kontrak yang terjadi karena adanya
transaksi dadakan (spot transaction). Kontrak jenis ini bersifat tidak
fleksibel (inflexible) dalam pengertian bahwa para pihak yang mengadakan
kontrak tadi tidak memiliki kebebasan untuk
saling mengajukan penawaran. Termasuk dalam jenis kontrak ini adalah belanja di supermarket, ketaatan terhadap peraturan lalu lintas, menonton sepakbola di stadion, dan sebagainya.
saling mengajukan penawaran. Termasuk dalam jenis kontrak ini adalah belanja di supermarket, ketaatan terhadap peraturan lalu lintas, menonton sepakbola di stadion, dan sebagainya.
2. Relational Contract,
Yaitu kontrak yang terjadi dari adanya
hubungan atau relasi antar dua orang atau lebih. Kontrak jenis ini lebih
fleksibel sifatnya karena memberikan kesempatan kepadapihak-pihak yang
bersangkutan untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Dengan kata lain, kontrak ini mengenal adanya clausul escape atau klausul yang
berhubungan dengan diadakannya kontrak tersebut. Contohnya adalah pengangkatan
seorang pekerja dengan terlebih dahulu membuat kontraknya, pegawai negeri yang tunduk
pada aturan tentang hak dan kewajiban pegawai, dan sebagainya. Khususnya mengenai
posisi pegawai negeri ini dilihat dari ketidak bebasan untuk menentukan pilihan–
sesungguhnya bisa dikelompokkan kedalam spot contract. Namun karena sifat
relasionalnya yang lebih kuat dan proses untuk menjadi pegawai juga panjang
(tidak bersifat dadakan), maka ini lebih tepat dikelompokkan dalam relational contract.
3. Implicit Contract,
Ini merupakan jenis kontrak yang paling
fleksibel, dimana tanpa adanya ikatan kontrak secara formal, seseorang dapat menjadi
anggota suatu organisasi. Seorang warga Negara misalnya, tanpa melakukan
sesuatu tindakan telah melekat dalam dirinya perasaan bangga sebagai anggota
masyarakat serta memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap negaranya.
Kelemahan dari kontrak implisit ini adalah sifatnya yang tidak lengkap (incomplete)
dan susah terukur,sehingga ada baiknya jika diadakan clausuescape.[10]
Teori atau ilmu
perilaku organisasi (organization behavior) pada hakekatnya mendasarkan
kajiannya pada ilmu perilaku itu sendiri (akar ilmu psikologi), yang dikembangkan
dengan pusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam organisasi.
Dengan demikian, kerangka
dasar teori perilaku organisasi ini didukung oleh dua komponen pokok, yakni
individu-individu yang berperilaku dan organisasi formal sebagai wadah dari
perilaku tersebut. Jadi, perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyangkut
aspek- aspek tingkah laku manusia dalam organisasi atau suatu kelompok
tertentu. Aspek pertama meliputi pengaruh organisasi terhadap manusia, sedang
aspek kedua pengaruh manusia terhada porganisasi.
Organizational Behavior yang menjelaskan bahwa
perilaku organisasi di dalamnya terdapat interaksi dan hubungan antara
organisasi di satu pihak dan perilaku individu di lain pihak.[11] Kesemuanya ini memiliki tujuan
praktis yaitu untuk mengarahkan perilaku manusia itu kepada upaya-upaya
pencapaian tujuan.
Adan empat komponen
yang nyata dalam pengorganisasi, dan komponen-komponen dapat diingat dengan
perkataan “W E R E”, yang berarti “Work Employes, Relationships and Envirorment” – Pekerjaan,
pegawai-pegawai, hubungan-hubungan, dan lingkungan.[12]
B. Pembentukan
Organisasi Terhadap Kaderisasi
Hicks & Gullen
(1981:321) mengatakan bahwa organisasi adalah kegiatan membagi-bagi tugas,
tanggung jawab dan wewenang di antara sekelompok orang untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Pierce I dan Robinson (1989:296)
organisasi adalah proses membentuk hubungan-hubungan yang esensial di antara
orang-orang, tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dengan cara mengintegrasikan
dan mengkoordinasikan semua sumber organisasi kearah pencapaian suatu tujuan secara
efektif dan efisien.
a. Ciri-Ciri Organisasi
Organisasi sebagai suatu sistem, yaitu adanya
seperangkat unsur yang saling bergantung dan saling berhubungan antara yang
satu dengan yang lainnya. Organisasi merupakan struktur, adanya suatu kadar
formalitas dan pembagian tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh
anggota kelompok. Adanya perencanaan yang dilakukan secara sadar berdasarkan
rasionalitas dan pedoman-pedoman yang jelas. Adanya koordinasi dan kooperasi
yang baik diantara orang-orang yang bekerja sama, menunjukkan bahwa
tindakan-tindakan orang-orang tersebut berjalan kearah suatu tanggung jawab
tertentu.
b. Tujuan Organisasi
Tujuan adalah arah atau sesuatu
yang ingin dicapai atau dipengaruhi yang menjadi sebab dilaksanakannya suatu
kegiatan. Untuk mencapai tujuan, suatu organisasi menggunakan berbagai upaya.
Tujuan organisasi pada hakikatnya merupakan intergrasi dari berbagai tujuan
baik yang sifatnya komplementer yaitu tujuan individu atau anggota organisasi,
maupun tujuan yang sifatnya substantif, yaitu tujuan organisasi secara
keseluruhan.
Tujuan substantif
merupakan tujuann pokok organisasi yang menjadi sebab utama dibentuknya suatu
organisasi. Oleh sebab itu, kegiatan-kegitan organisasi diarahkan kepada dua
dimensi tujuan, yaitu: Tercapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
Keefektifan adalah yang berhubungan dengan tujuan organisasi baik secara
iksplitis maupun implisit. Efisiensi adalah berhubungan dengan rasio output
dengan input atau keuntungan dengan biaya. Adakalanya tujuan dapat dicapai
secara efektik, tetapi tidak efisien, artinya tujuan dapat dicapai tetapi
terjadi pemborosan tenaga, bahan dan waktu. Sebaliknya, bisa terjadi tujuan
tersebut dicapai secara efisien dan efektif.
Tercapainya
kepuasan dari anggota organisasi. Dalam proses pencapaian tujuan organisasi,
setiap orang atau anggota yang bekerja atau terlibat dalam aktivitas organisasi
harus diberikan kepuasan, sehingga mereka merasa sebagai anggota organisasi,
dan hal tersebut akan mendorong orang tersebut untuk bekerja dalam kondisi dan
motivasi yang produktif.
Pengertian Kaderisasi
adalah proses pendidikan jangka panjang untuk menanamkan nilai-nilai tertentu
kepada seorang kader.[13]
Sedangkan kader
adalah anggota, penerus organisasi. Adapun nilainilai yang diyakini bersama
sebagai pembentuk watak dan karakter organisasi. Organisasi, apapun itu mutlak
mensyaratkan kaderisasi. Kecuali bila organisasi anda adalah organisasi diri
sendiri, yang anggotanya anda sendiri. Organisasi terpimpin sekalipun, dimana seorang
Ketua menjadi Ketua sepanjang hidupnya tetap saja membutuhkan regenerasi untuk
rekan kerjanya.
Sebuah organisasi
dapat kita analogikan sebagai sebuah bangunan. Sebuah bangunan tentunya harus
memiliki pondasi yang kuat agar bangunan tersebut dapat tetap kokoh. Dalam
sebuah organisasi salah satu pondasi yang diperlukan adalah kaderisasi.
Kaderisasi dalam sebuah organisasi dapat kita artikan sebagai proses penurunan
nilai kepada individu dimana nilai atau nilai-nilai tersebut adalah sesuatu
yang memang dibutuhkan untuk menyiapkan individu tersebut melaksanakan tujuan
organisasi yang mengkadernya.
Kaderisasi merupakan
merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa
kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak
dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi
adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan
berkelanjutan.[14]
Fungsi dari
kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calo(embrio) yang siap melanjutkan
tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah
orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan
disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang
umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa
kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin
bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.” Pandangan umum
mengenai kaderisasi suatu organisasi dapat dipetakan menjadi dua ikon secara
umum. Pertama, pelaku kaderisasi (subyek). Dan kedua, sasaran kaderisasi
(obyek). Untuk yang pertama, subyek atau pelaku kaderisasi sebuah organisasi
adalah individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi
dan kebijakan- kebijakannya yang melakukan fungsi regenerasi dan kesinambungan
tugas-tugas organisasi.
Sedangkan yang kedua
adalah obyek dari kaderisasi, dengan pengertian lain adalah individu-individu
yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan visi dan misi organisasi. Sifat
sebagai subyek dan obyek dari proses kaderisasi ini sejatinya harus memenuhi
beberapa fondasi dasar dalam pembentukan dan pembinaan kader-kader organisasi
yang handal, cerdas dan matang secara intelektual dan psikologis. Sebagai
subyek atau pelaku, dalam pengertian yang lebih jelas adalah seorang pemimpin.
Bagi Bung Hatta, kaderisasi sama artinya dengan edukasi, pendidikan. Pendidikan
tidak harus selalu diartikan pendidikan formal, atau dalam istilah Hatta
“sekolahsekolahan”, melainkan dalam pengertian luas.
Tugas pertama-tama
seorang pemimpin adalah mendidik. Jadi, seorang pemimpin hendaklah seorang yang
memiliki jiwa dan etos seorang pendidik. Memimpin berarti menyelami perasaan
dan pikiran orang yang dipimpinnya serta memberi inspirasi dan membangun
keberanian hati orang yang dipimpinnya agar mampu berkarya secara maksimal
dalam lingkungan tugasnya.
Sedangkan sebagai
obyek dari proses kaderisasi, sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan
tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena
jatuh-bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan
mereka secara intensdalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk
melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh para
pendahulu-pendahulunya. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal
kaderisasi adalah potensi dasarsang kader. Potensi dasar tersebut sesungguhnya
telah dapat dibaca melalui perjalanan hidupnya. Sejauh mana kecenderungannya terhadap
problema-problema social lingkungannya. Jadi, di sana ada semacam landasan berfikir atau
filosofi kaderisasi yang harus mendapatkan porsi perhatian oleh setiap
organisasi atau pergerakan. Yaitu: harus ditemukan upaya mencari bibit-bibit
unggul dalam kaderisasi. Subyek harus mampu menawarkan visi dan misi ke depan
yang jelas dan memikat, serta menawarkan romantika dinamika organisasi yang
menantang bagi para kader yang potensial, sehingga mereka dengan senang hati
akan terlibat mencurahkan segenap potensinya dalam kancah organisasi.
C. Pendekatan Perilaku Organisasi
Dengan adanya
interaksi atau hubungan antar individu dalam organisasi, maka penelaahan
terhadap perilaku organisasi haruslah dilakukan melalui pendekatan-pendekatan
sumber daya manusia (supportif), pendekatan kontingensi, pendekatan
produktivitas dan pendekatan sistem. Pendekatan sumber daya manusia dimaksudkan
untuk membantu pegawai agar berprestasi lebih baik, menjadi orang yang lebih
bertanggung jawab, dan kemudian berusaha menciptakan suasana dimana mereka
dapat menyumbang sampai pada batas kemampuan yang mereka miliki, sehingga
mengarah kepada peningkatan keefektifan pelaksanaan tugas.
Pendekatan ini
berarti juga bahwa orang yang lebih baik akan mencapai hasil yang lebih baik
pula, sehingga pendekatan ini disebut pula dengan pendekatan suportif.
Sementara itu, pendekatan kontingensi mengandung pengertian bahwa adanya
lingkungan yang berbeda menghendaki praktek perilaku yang berbeda pula untuk
mencapai keefektifan.[15]
Disini pandangan
lama yang mengatakan bahwa prinsip-prinsip manajemen bersifat universal dan
perilaku dapat berlaku dalam situasi apapun, tidak dapat diterima sepenuhnya.
Disisi lain, pendekatan produktivitas dimaksudkan sebagai ukuran seberapa
efisien suatu organisasi dapat menghasilkan keluaran yang diinginkan. Jadi,
produktivitas yang lebih baik merupakan ukuran yang bernilai tentang seberapa
baik penggunaan sumber daya dalam masyarakat.
Dalam hal ini perlu
diingat bahwa konsep produktivitas tidak hanya diukur dalam kaitannya dengan
masukan dan keluaran ekonomis, tetapi masukan manusia dan sosial juga merupakan
hal yang penting.[16]
Dengan demikian,
apabila perilaku organisasi yang lebih baik dapat mempertinggi kepuasan kerja,
maka akan dihasilkan keluaran manusia yang baik pula, dan pada akhirnya akan
menghasilkan produktivitas pada derajat yang diinginkan. Adapun pendekatan
sistem terutama diterapkan dalam sistem sosial, dimana di dalamnya terdapat
seperangkat hubungan manusia yang rumit yang berinteraksi dalam banyak cara.
Ini berarti, dalam mengambil keputusan para manajer harus mengkaji hal-hal
diluar situasi langsung untuk menentukan dampaknya terhadap sistem yang lebih
besar, sehingga memerlukan analisisbiaya dan manfaat (cost – benefit analysis).[17]
Antara pendekatan sumber
daya manusia dengan pendekatan produktivitas diatas, memiliki kaitan yang
sangat erat, dimana adanya dorongan pimpinan terhadap karyawan untuk melakukan
tugasnya sebaik mungkin, secara langsung akan mendorong tingkat produktivitas
organisasi.[18]
Untuk dapat
mendorong karyawannya kearah tujuan yang diharapkan, seorang pimpinan harus
dapat mengetahui kebutuhan karyawan yang bersifat pribadi dan internal.
D. Ruang Lingkup Organisasi
Pengorganisasian dilakukan untuk menghimpun, dan mengatur
semua sumber-sumber yang diperlukan, termasuk manusia, sehingga pekerjaan yang
dikehendaki dapat dilakukan dengan berhasil.
Perilaku Organisasi,
sesungguhnya terbentuk dari perilaku-perilaku individu yang terdapat dalam
organisasi tersebut. Oleh karena itu pengkajian masalah perilaku organisasi
jelas akan meliputi atau menyangkut pembahasan mengenai perilaku individu. Dengan
demikian dapat dilihat bahwa ruang lingkup kajian ilmu perilaku organisasi
hanya terbatas pada dimensi internal dari suatu organisasi.[19]
Dalam kaitan ini,
aspek-aspek yang menjadi unsur-unsur, komponen atau sub sistem dari ilmu
perilaku organisasi antara lain adalah: motivasi, kepemimpinan, stres dan atau
konflik, pembinaan karir, masalah sistem imbalan, hubungan komunikasi,
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, produktivitas dan atau kinerja
(performance), kepuasan, pembinaan dan pengembangan organisasi (organizational
development), dan sebagainya.[20]
Sementara itu aspek-aspek
yang merupakan dimensi eksternal organisasi seperti faktor ekonomi, politik,
sosial, perkembangan teknologi, kependudukan dan sebagainya, menjadi kajian
dari ilmu manajemen strategik (strategic management).[21]
Jadi, meskipun faktor
eksternal ini juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan organisasi
dalam mewujudkan visi dan misinya. Untuk mengkondisikan suatu organisasi dibutuhkan suatu pembagian
kerja. Pembagian kerja ini dibagi-bagi secara garis mendatar dan garis tegak
menurut George R. Terry dan Leslie W. Rue antara lain :
·
Pembagian kerja secara vertical didasarkan atas penetapan
garis-garis kekuasaan dan menetukan tingkat-tingkat yang membentuk bangunan organisasi
secara tegak. selain menetapkan kekuasaan, pembagian kerja secara vertical
memudahkan arus komunikasi dalam organisasi.
·
Pembagian kerja secara horizontal didasarkan atas spesialisasi
kerja. Asumsi dasar yang melandasi pembagian kerja garis datar adalah bahwa,
dengan membuat setiap tugas pekerjan menjadi terperinci, makin banyak pekerjaan
yang dapat dihasikan dengan usaha yang sama melalui peningkatan efesiensi dari
kualitas. Secara terperinci, pembagian tugasnya
horizontal berakhir dengan keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
1. Lebih sedikit
kecapan diperlukan seseorang.
2. Lebih mudah untuk
memperinci kecakapan-kecakapan yang diperluakn untuk menyaring atau
tujuan-tujuan latiahan.
3. Mengulangi dan
memprakatekkan kerja yang sama mengembangkan kemahiran.
4. Penggunaan kecakapan-kecakapann
secara efisiena terutama sekali dengan menggunakan kecakapan-kecakapan terbaik
setiap pekerjan.
5. Kemampuan untuk beroperasi
bersama-sama.
6. Lebiah banyak terdapat keseragaman dalam
produksi akhir, Jka setiap potongan selalu diproduksikan oleh orang yang sama.[22]
Mullins (2005:596)
mendefinisikan bahwa the structure
definines tasks and responsibilites, work roles and and relationship and
channels of communication. Robbins (2009:214) berpendapat bahwa struktur
organisasi menentukan bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokan, dan
dikoordinasikan secara formal. Dua pengertian ini menyatakan bahwa susunan dan
hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau
perusahaan dalam menjelankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan.
Struktur organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahaan kegiatan pekerjaan
antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi
dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan
wewenang siapa melapor kepada siapa.
Struktur organisasi adalah
susunan komponen-komponen ( unit-unit kerja ) dalam organisasi. Gibson et al
(2009:394) berpendapat yang merupakan pola pekerjaan atau kelompok pekerjaan di
dalam sebuah organisasi. Artinya, bahwa struktur organisasi merupakan pola
hubungan di antara posisi-posisi dalam
orgaisasi dan antara anggota-anggotanya dalam organisasi. Nelson dam Quick
(2006:494) menyatakan bahwa struktur organisasi sebagai penyambung antar
depertemen dan pekerrjaan di dalam sebuah organisasi yang memberikan bentuk
organisasi untuk memenuhi fungsinya. [23]
Struktur organisasi biyasanya
direflesikan kedalam peta organisasi (organization
chart) yang secara visual digambarkan dalam bentuk kotak dan garis. Dengan demikian secara filosofis struktur
organisasi adalah tidak lain adalah “cetak biru” atau “kerangka bangunan” formal tentang bagian kerja dan pembagian
kekuasaan serta koordinasi kerja yang memungkinkan terjadinya aliran informasi
dan komunikasi yang efisien dan proses
kepuasan kerja yang cepat. Struktur organisasi menggambarkan pula pola hubungan
antar pihak internal (eksekutif, manager dan pekerjaan) dan pola hubungan
antara pihak internal dan eksternal.[24]
Bentuk spesifik dari kerangka
kerja organisasi dinamakan struktur organisasi. Struktur organisasi banyak
macamnya, mulai dari yang bersifat tradisional sampai modern. Pemahaman
bagaimana organisasi tertentu tersusun, sangat berguna bagi perumusan strategi.
Apabila struktur organisasi cocok dengan strategi organisasi yang diusulkan,
maka strategi tersebut merupakan kekuatan organisasi. Akan tetapi, jika
struktur organisasi tidak sesuai dengan strategi yang ada atau yang diusulkan,
maka struktur tersebut merupakan jelas kelemahan organisasi dan akan sulit
untuk mengemplementasikan strategi dengan benar. Menurut Stoner (1986) struktur organisasi
dibangun oleh lima unsur, yaitu:
- spesialisasi aktivitas mengacu pada spesifikasi tugas perorangan dan kelompok diseluruh organisasi atau pembagian kerja atau penyatuan tugas tersebut kedalam unit kerja (dapertementalisasi)
- Standart aktivitas merupakan prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayakgunaan ( predictability ) aktivitas. [25]
- Koordinasi aktivitas adalah prosedur yang memadukan fungsi-fungsi dalam organisasi, seperti fungsi primer dalam suatu badan usaha, pemasaran, produksi dan penjualan merupakan fungsi garis yang secara langsung menyumbangkan pada pencapaian tujuan organisasi memerlukan koordinasi.
- Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputasan mengacu pada lokasi kekuasaan pengambilan keputusan . sentralisasi adalah proses konstrasi wewenang dan pengambilan keputusan pada tingkat atas organisasi. Sentralisasi dilakukan agar diproleh manfaat ekonomi dan pengendalian berbagai hal berdasarkan kebijakan, prosedur dan pemantauan yang distandardisasikan. Bawahan semata-mata sebagai pelaksana. Keuntungan sistem sentralisasi antaralain pengaturan yang sama bagi semua unit dalam organisasi. Kelemahannya, bawahan tidak berkembang dan putusan oleh atasan menyita waktu lamaterlebih jika data ada pada bawahan. Untuk mengatasi hal itu, dilakukan pendelegasian wewenang pada semua tingkat organisasi yang disebut disentralisasi.
BAB III
KESIMPULAN:
Organisasi adalah suatu sistem tentang aktifitas kerjasama
dua orang atau lebih dari sesuatu yang tidak berwujud dan tidak padang bulu, yang sebagian
besar bagian silaturahmi.
Organisasi (organization) dan pengorganisasion (organizing)
memiliki hubungan yang erat dengan manajemen. Organisasi merupakan alat dan
wadah atau tempat manejer melakukan kegiatan-kegiatannya untuk mencapai tujuan
yang diinginkan Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi organik dari manajemen
dan ditempatkan sebagai fungsi kedua setelah perencanaan (planning).
Berdasarkan pengertian dan
teori mengenai struktur dan organisasi tersebut diatas, dapat disentesis bahwa
struktur organisasi adalah pola hubungan antara pihak internal dan ekternal,
suatu sistem formal dalam suatu organisasi dalam rangka penciptaan pengendalian
kegiatan-kegiatan organisasi. Organisasi sebagai alat administrasi dan
manajemen terlihat penting apabila diingat bahwa bergerak tidaknnya organisasi
kearah pencapaian tujuan sangat tergantung atas kemampuan manusia dalam
organisasi menggerakkan organisasi itu ke arah yang telah ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Diswana, Peranan
Pendidikan Kader PMII Terhadap Pemahaman Kebangsaan, Kasus
Pada Anggota PMII dikases 12 Maret 2016
Pada Anggota PMII dikases 12 Maret 2016
George R. Terry Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi
Aksara,1992).
Handoko, T. Hani. Manajemen, (Yogyakarta. Edisi
Kedua. BPFE: 2000)
http://anaksebatik.blogspot.comkaderisasi-organisasi-sebuah-proses.html.
Dijelaskan pula dalam A. Effendy Choiri dan Choirul Anam,
Pemikiran PMII dalamBerbagai Visi dan Persepsi, Penerbit Majalah Nahdlatul
Ulama Aula, Surabaya tahun 1991 dikases 12 Maret 2016
Nanang Fatah, Landasan
manajemen pendidikan. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 1996)
Wexley, Kenneth. M. And
Gary A. Yuki. Perilaku Organisasi dan Psikologi
Personalia. Rineka Cipta: Jakarta 2005.
Personalia. Rineka Cipta: Jakarta 2005.
Winardi. J., Motivasi dan Pemotivasian dalam
Manajemen. (Jakarta: Rajawali Pers: 2002)
[1] Handoko, T. Hani. Manajemen,
Edisi Kedua. (Yogyakarta: BPFE: 2000) h
6
[2] Wexley, Kenneth. M. And Gary A.
Yuki. Perilaku Organisasi dan Psikologi
Personalia. (Jakarta: Rineka Cipta: 2005) h 4
Personalia. (Jakarta: Rineka Cipta: 2005) h 4
[3] Georrge
R. Terry dan Leslie W. Rue. Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi
Aksara,1992) cet.ke-16.h.82
[5] Ibid, h. 43
[6] Handoko, T. Hani. Manajemen,
(Yogyakarta. Edisi Kedua. BPFE: 2000) h 56
[8] Winardi. J., Motivasi dan Pemotivasian dalam
Manajemen. (Jakarta: Rajawali Pers: 2002) h 55
[10] Winardi. J., Teori organisasi
dan Pengorganisasian, (Jakarta Rajawali Pers: 2003) h 76
[11]Wexley, Kenneth. M. And Gary A. Yuki. Perilaku
Organisasi dan Psikologi
Personalia. (Jakarta Rineka Cipta: 2005) h. 76
Personalia. (Jakarta Rineka Cipta: 2005) h. 76
[12] Georrge
R. Terry dan Leslie W. Rue. Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara,1992). cet.ke-16.h.82
[13]http://anaksebatik.blogspot.comkaderisasi-organisasi-sebuah-proses.html.
Dijelaskan pula
dalam A. Effendy Choiri dan Choirul Anam, Pemikiran PMII dalamBerbagai Visi dan
Persepsi, Penerbit Majalah Nahdlatul Ulama Aula, Surabaya tahun 1991 dikases 12
Maret 2016
[14] Diswana, Peranan Pendidikan Kader
PMII Terhadap Pemahaman Kebangsaan, Kasus
Pada Anggota PMII dikases 12 Maret 2016
Pada Anggota PMII dikases 12 Maret 2016
[15] Ibid,
[16] Ibid, h. 68
[21] Ibid,
h 56
[22] George
R. Terry Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara,1992).h.84
[23] ibid. h. 132
[25] Nanang Fatah, Landasan
manajemen pendidikan. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 1996) h 73-74
Comments
Post a Comment